Thursday, August 30, 2012

CARA MENGHITUNG PENYUSUTAN PADA PEMBEKUAN IKAN


Bagi sebagian orang, mungkin ini bukan hal yang rumit, tapi ngga begitu buat yang lain.

Berhubung gue basic-nya di ikan, jadi gue pikir ngga salah sedikit berbagi.

Beberapa taon lalu, pernah kejadian di salah satu pabrik pengolahan yang baru beroperasi, heboh karena ada ketidak sesuaian data antara jumlah total ikan yang dibeli dari supplier, dengan jumlah ikan yang dikeluarkan departemen pembekuan dari gudang beku (cold storage) untuk diolah lanjut.  Sempat tejadi pertikaian antara departemen pembelian dan departemen pembekuan. 

Departemen  pembelian  curiga  telah terjadi ‘pencurian’ pada saat proses pembekuan, atau saat ikan di simpan dalam gudang beku (cold storage).  Sedangkan departemen pembekuan mencurigai telah terjadi mark up oleh departemen  pembelian.

Begini kasusnya:

Departemen  pembelian ikan mencatat dalam nota timbang pembelian ikan mentah sebanyak 650.000 kg, yang kemudian di serahkan secara bertahap pada departemen pembekuan untuk di bekukan dalam unit pembekuan yang menggunakan Air Blast Freezing.  Lalu setelah ikan beku, di simpan dalam gudang penyimpanan beku yang di kenal dg Cold Storage.

Ikan-ikan beku pada cold storage tersebut nantinya akan dikeluarkan secara bertahap untuk di proses/diolah.

Persoalan muncul ketika semua ikan habis dikeluarkan dari cold storage.  Terjadi ketidak sesuaian,  karena jumlah ikan setelah habis di keluarkan, menurut laporan penimbangan hanya sejumlah 611.000 kg.  Departemen pembelian complain.  Kemana ikan sebanyak 39.000 kg…?  Namun departemen pembekuan berkeras kalau mereka telah menjalani  aktifitasnya dengan benar.  Dan konflik berlanjut.  Seluruh personil departemen pembekuan mogok.  Tidak terima dituduh menyebabkan kehilangan seperti yang di tuduhkan departemen pembelian.

(Tahukah anda jumlah uang yang hilang seandainya tuduhan departemen pembelian itu terbukti…?  39.000 kg x Rp. 8000 (harga ikan per kg) = Rp. 312.000.000 )

Perusahaan mana yang ngga kebakaran jenggot hilang 312 juta…?

Akhirnya nota timbang di periksa ulang.  Buku laporan security diperiksa kalau-kalau telah terjadi pencurian.  2 minggu berlalu, tapi hasilnya nihil.  Departemen pembekuan terancam di laporkan kepolisi.  Namun pimpinan perusahaan  yang baru beroperasi tersebut akhirnya  meminta bantuan perusahaan tetangga yang berbeda  spesifikasi olahannya.  Lalu perusahaan tetangga mengutus salah satu supervisor-nya untuk membantu.

Ternyata si-supervisor cuma butuh 2 jam untuk memecahkan masalah yang penyebabnya adalah ketidak tahuan departemen pembelian dan pembekuan, tentang prosentase (%) penyusutan sebelum dan sesudah di bekukan.

Anda tau penyebabnya….?  Tepat.  39.000 kg ikan yang diduga hilang adalah jumlah yang susut selama proses pembekuan berlangsung.  Gimana  penjelasan logisnya…? 

Begini:

Ikan sebanyak 650.000 kg yang di serahkan departemen pembelian untuk di bekukan adalah ikan mentah yang kadar airnya masih tinggi.  Ketika di bekukan, terjadi  ‘penarikan air’ dari ikan, hingga ikan menjadi keras, namun ringan.

Dan berdasarkan pengalaman,  saat pembekuan terjadi penyusutan maksimum  sebesar 6%.  Di mana kondisi tersebut juga  dipengaruhi oleh beberapa factor seperti,  tingkat kesegaran ikan dan metode pembekuan (gue bahas lain waktu di tulisan lain)

Jadi klop toh kalo ikan sebelum di bekukan 650.000 kg, tapi tinggal 611.000 kg…?  karena:

650.000 kg x 6% = 39.000 kg. 

650.000 kg – 39.000 kg = 611.000 kg

Tapi pernah juga ada pertanyaan begini:

Bagaimana membuktikan kalau jumlah ikan sebelum dibekukan dan sesudah di keluarkan dari gudang beku (cold storage) sesuai…?  Gampang koq.

Pake aja rumus ini:  

(A – C)= B

(B/A) x 100

A : berat ikan mentah sebelum di bekukan
B : jumlah penyusutan selama pembekuan
C : berat ikan setelah dikeluarkan dari gudang beku (cold storage)


Kalau hasilnya 6≤ (kurang dari, atau 6) = sesuai; 

                kalau 6> (lebih dari 6) = tidak sesuai.  Kaji kemungkinan lain (gue    
                                                     bahas di tulisan lain).


Ok,…gitu dulu yach.  Smoga bermanfaat. 

EVERYTHING YOU DO, YOU DO IT FOR DUIT….?


“Males banget gue ngomongin duit…”

Pernah ngga denger orang ngomong begitu…? Mungkin.  Tapi berapa banyak orang yang ngga doyan duit…? Ogah,…ogah,…gue ngga mau mendiskreditkan kartu kredit,…upss,..maksudnya mendiskreditkan siapapun dalam kaitannya dengan duit.  Takut kualat.  Hehehe…kualat ngga dapet duit.

Tapi bener koq.  Biarpun ada jutaan sensus, survey ato riset yang dilakukan di kolong langit ini, gue belom pernah denger ato baca, ada survey ato riset tentang orang yang nolak duit.  Misalnya:

“Sebuah survey yang dilakukan oleh Lembaga keuangan Negara A terhadap 340.000 responden di daerah AC, menunjukan sebuah angka yang mengejutkan.  25% responden sama sekali anti duit. 15% sesekali doyan, 20% doyan banget,  40% ketagihan duit”

Gue yakin kalo emang ada survey semacam itu, pasti ngga bakal di peroleh data yang akurat.  Tau kenapa…? Karena pembicaraan soal duit adalah pembicaraan yang menyentuh area-area sensitive sebagian besar orang.  Karena cuma sedikit orang yang sudi ditelanjangi hasrat dan impian-impiannya akan duit.  Banyak orang malu-malu harimau kalo bicara duit, walau prinsip hidupnya 3 MU, alias  Mencari Uang, Mengumpulkan Uang dan Memperbanyak Uang.  Tapi kalo ngomong di umum:

 “Saya paling tidak suka ribut soal duit.  Saya lebih rela kehilangan duit seberapapun jumlahnya daripada putus hubungan keluarga…”

“Ini bukan soal duit, tapi komitmen bersama.  Soal keadilan dan harga diri,…bla..bla..bla”

50 taon lalu, waktu gue masih muda (hehehe..) gue pernah kenal seseorang yang harta ngga bergeraknya kalo dirupiahin mencapai sekitar 3 – 4 M.  suatu ketika, sore-sore, di depan rumahnya lewat seorang penjual kue.  Anaknya yang semata wayang ngerek-rengek minta beli ke ibunya.  Ibunya lapor ke suami. Suaminya bilang:

“Mama, kita kan udah komitmen untuk hemat”

“1 biji aja pa, kasian si-cipot” rasa iba seorang ibu mulai terusik

“Suruh minum teh manis aja supaya kenyang” sambung bapaknya

Sstt,…cerita tersebut nyata loh.

Hayoooo, jangan langsung memvonis orang dong,…karena sebenarnya tanpa sadar kita juga pernah, atau malah sering berlaku begitu koq kalo ngomong soal duit.
Dengan duit kita bisa melakukan banyak hal yang membuat hidup kita dan orang lain jadi indah, atau sebaliknya. 

Beberapa puluh taon lalu, para peneliti di Amerika pernah melakukan riset dengan mengamati dan mewawancarai ratusan orang-orang yang sangat kaya.  Hasilnya, mereka, orang-orang yang sangat kaya tersebut menjalani hidup penuh kebahagiaan.  Dan hanya tidak lebih dari 10% saja yang merasa kurang bahagia. (eh,..suer loh cerita tersebut gue baca di buku.  Cuman lupa buku apa.  Kalo boong, buku ato penelitiannya yang boong.  Bukan gue,..hehehe)

Tapi ngga sedikit juga kan kesengsaraan yang timbul karena kebanyakan duit.  Walau  lebih banyak lagi yang sangat sengsara karena kesulitan duit.

Berita di TV swasta pernah memuat kisah tragis seorang ibu yang terpaksa tega meracuni 3 anaknya hingga tewas, dan akhirnya bunuh diri minum racun yang sama, karena tekanan ekonomi.  Karena ngga punya duit untuk makan sehari-hari.

Ada juga kisah seorang suami di Eropa yang akhirnya terbukti  sengaja menyebabkan istrinya kecelakaan masuk jurang, dengan cara membuat blong rem mobil yang dikendarai sang istri, semata demi asuransi jiwa yang bernilai puluhan milyard.

Belasan taon lalu, di salah satu propinsi di Negara kita, seorang anak 16 taon, tega meracuni kedua orang tuanya guna mendapatkan duit jutaan hasil penjualan tanah.

Gue meng-amini salah satu isi Kitab suci yang menyatakan bahwa duit adalah akar dari segala kejahatan.  Tapi gue memilih untuk meyakininya secara arif.  Maksudnya, bukan duit yang bakal njadiin gue budak.  Tapi gue bakal mencari duit, mengumpulkan duit, dan menjadikan duit mainan gue.  Hehehe….

Robert Kyosaki pernah bilang: ‘bukan duit masalahnya. Tapi mental kita.  Siap ngga punya duit banyak’

Mental yang kaga siap toex punya duit bejibun bakal njadiin duit sebagai akar dari segala kejahatan.

Udah dulu ah,..anak gue udah manggil buat nggasak martabak yang baru gue beli.  Hmmm,..baunya…Astaga,….koq gue cuma di sisain 1 biji sich,…itu kan 30 ribu………arrggghhhh…

Pepatah Indian kuno:

Ketika pohon terakhir sudah ditebang, ikan terakhir sudah di tangkap dan sungai terakhir sudah diracun, barulah kita sadar bahwa uang tidak bisa dimakan.

Wednesday, July 18, 2012

REMBULAN DI LANGIT AIRMADIDI


Hari ini 03 July 2012.  3 bulan setelah pabrik tempat kerja gue ‘sleeping with conflict’ alias ditutup karena konflik internal.  Dari 120 lebih karyawan, tersisa 4 penunggu.  Gue, dan 3 temen.

PT. Celebes Minapratama. Pabrik ikan yang ampir 11 taon gak pernah sepi aktifitas, sekarang tampak lusuh. Merana digerogotin karat dan sarang laba-laba. Rumput dan pepohonan bambu semakin ribut saat ditiup angin karena udah gondrong ngga pernah lagi dipangkas

Ketika si-Surya penunggu siang mulai ngantuk, gue tunggangin smash biru my Dady yang udah seumur pabrik. Cuma lantaran dipake sebatas rumah ama kebon, kilometer di speedonya baru 9550 km.

Dalam perjalanan menembus keremangan, gue biarkan benak gue yang mulai genit menggerayangi untaian panjang waktu yang telah gue lewatin.  Mulai dari konflik unik berkepanjangan antara 2 bos yang pemegang saham, bisnis istri gue yang mulai menggurita, istri temen gue yang sakit parah, sampe rencana gue buat bisnis trading yang belom juga menunjukan titik terang.

Memasuki Watudambo, gue sengaja jalan pas di belakang truk container tanpa box, guna ‘mengamankan’ benak gue yang berseliweran.  Selain aman dari kemungkinan diseruduk kendaraan dari depan, gue juga ngga diganggu lampu mobil yang menyilaukan.

----------------------------------------------------------------------------------------- 

Entah kenapa, gue seolah ‘menikmati’ posisi netral gue dalam konflik 2 pemegang saham.  Indonesia vs Jepang. Sama-sama kaya dan berkuasa. Juga sama-sama kukuh dengan pendiriannya. Konflik yang bukan cuma nyedot dana extra gede, tapi juga energi. Sedangkan asset itu sendiri, PT. Celebes Minapratama berangsur-angsur susut dan menua. Tertidur pulas tanpa telur emas. Padahal, total assetnya sekitar 30 Milyar.

Tanpa sadar, gue terkondisikan sebagai mediator yang njembatanin komunikasi kedua pihak yang beseteru. Tahu banyak kiat-kiat kedua pihak untuk saling merobohkan kekuatan lawan.  Piranti hukum dan kewenangan pemerintahpun jadi salah satu lokomotif toex menguak borok lawan. Plus kesaktian mental dalam mengelola stress. Walau ujungnya kembali pada tradisi hukum rimba: “yang kuat, yang akan bertahan..”

Sebagai penganut aliran simple people, gue heran sama pola pikir orang yang duitnya ngga cukup disimpen di dua Bank, koq harus nempuh jalur ruwet kalo ada jalur yang simple...? koq harus nunggu tekanan darah naek kalo bisa mempertahankan kegembiraan...?

Mungkin bener mereka bilang: “it isn’t only about money Robin...!”

Lalu apa...?

“Ini persoalan harga diri dan kredibilitas..”

Oh my God,...ajarin gue dong apa arti harga diri dan kredibilitas.

Kenapa sich banyak orang berantemin duit pake bawa-bawa harga diri sama kredibilitas....? Apa emang gue segoblok ini sampe bingung mengklasifikasikan 10 milyar, harga diri dan kredibilitas....?

Apa gue juga harus ragu untuk bersyukur,ato merasa terkutuk sebagai penganut aliran simple people...?

--------------------------------------------------------------------------------

Memasuki by pass, seekor motor (hehe,..) gede ijo jalan sejajar gue. Penumpangnya laki-laki muda berjaket kulit dan helm item.  Di pinggangnya melingkar tangan gemulai dengan gaya duduk yang agak nyembul ke atas, dengan dada yang lengket di punggung si-pria. Berjaket jeans dan celana pendek. Walau agak gelap, mata tua gue masih bisa memastikan kaki panjangnya yang putih mulus dan padat. Rambutnya yang halus tanpa helm tergerai-gerai disisir angin (tapi ngga ada ketombe yang jatuh...)

Cewek noleh dikit waktu gue pelototin, dan langsung nempelin dagunya lagi di bahu laki-laki (mungkin dikiranya gue karung beras kali. Hehehe...)

Ngga lama kemudian, motor ijo tadi menyalip truk, dan melesat dikegelapan malam. Gue sendirian lagi di belakang truk.

Tiba-tiba otak gue diingatkan sama salah satu film ‘Taxi’ yg dibintangi wanita kulit hitam bertubuh subur, yang secara kebetulan berteman polisi lugu yang sering kena damprat bos cewek yang ditaksirnya.

“Supaya santai nyetir, coba deh loe nyetir sambil nyanyi..!” kata wanita supir taxi di salah satu adegannya.

Gue-pun ngikutin saran tersebut. ‘Tiada yg lain’-nya Fenomena

Semilirnya, angin malam ini
Membuaiku larut dalam lamunan, hayal tentang keindahan
Dunia fana ini
Kasih semu yg pernah kau curahkan
Membawa diperjalanan hidup ini
Tapi resah dan gelisah slalu menghantui
Karena sikapmu yang tak pasti

Kucoba melupakan dirimu, karena kutahu pasti sifatmu
Agar aku tak slalu rindu padamu, kasih
Semakin aku lupakan, semakin aku sadari
Cintaku hanya padamu seorang kasih
Tiada yang lain

Masuk Airmadidi, gue reflex nengok ke langit (kebetulan langit juga melototin gue). Bulan putih memendar indahnya. Menyirami malam dan jalan yang gue lewatin. Beberapa awan tipis (setipis Laurie Maxi..) baris sambil bergandengan tangan. Mirip sayap-sayap bidadari yang pengen mandi (iihh, knape gue juga jadi pengen mandi sichhh...)

Benak gue memanggil lagi memori masa muda gue. Waktu gue 20’an. Waktu angkutan umum cuma ST 20, waktu rokok belom terasa nikmat karena harganya cuma Rp.500/bungkus, waktu pertama ngerasain hangatnya bibir orang lain, waktu Manado ngga pernah macet, waktu minyak tanah Rp.100/liter, waktu tinutuan masih Rp.250 sepiring, waktu pemilik motor bisa diitung pake jari, waktu boulevard masih tempat parkir perahu (karena mall belum menetas), waktu telinga kiri gue masih dipasangin 4 biji anting (anting pepaya, mangga, pisang, jambu yg gue beli di pasar minggu)

Rembulan di langit Airmadidi masih ngikutin motor gue.

Gue inget pertama kali gue jadi Honda di Bappeda Sulut.  Gue inget pertama kali nyium aroma ikan yang memuakan saat nyari kerja di tanah Bitung. Gue juga inget waktu pertama kali terima gaji di perusahaan swasta, Rp. 180.000/bulan. Gue juga inget kalo walikota Bitung sekarang, kalah di pemilihan putaran pertama. 

Dan gue masih inget, kalo Rembulan di langit Airmadidi ternyata masih sama.
Walau semua kini telah berubah. Hehehe,..gue aja sekarang 41.

Akhirnya,...gue nyampe di rumah ortu. Bertepatan sama jam sinetron favorit gue: Tukang Bubur Naik Haji dan Raden Kian Santang.

Waktu nutup pager, gue noleh lagi ke langit.  Di sana, di langit Airmadidi, Rembulan tersenyum ke gue. Seolah berpesan:

“Bin, dalam keadaan apapun, berpihaklah selalu pada kebenaran…”       

Thursday, June 21, 2012

CELANA DALAM YANG MENGUBAH DUNIA


Jujur, gue sendiri sering bingung sama pilihan judul gw (apalagi nt yee...)

The problem is,....ide judul ini udah ngelintas begitu aja di otak gw,...wuuuussss....dan hasrat buat ngebatalin masih kalah kuat ketimbang nerusin. So,...what ever be done,...be done.

Kalo loe pikir waktu mbaca judulnya, gw bakalan ngebahas soal mode celana dalam dari waktu ke waktu, loe pasti salah.  Ato, loe mikir soal kisah sukses para designernya,... sayang, loe salah lagi.  Bisa juga loe sempet mikir soal kisaran harga celana dalem yang merambah pasaran dunia.  Bukan juga coy.  Karena otak gw ngga interest sama sekali ke soal yang begituan.

Ok deh, let’s begin....

Gini, dalam perjalan sejarah manusia, pastinya kita udah lama dijejelin sama pengetahuan soal sosok-sosok ajaib yang membuat dunia kita merangkak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya.  Dari satu peradaban ke peradaban berikutnya.  Dari era manual ke era digital.  Dan mereka, sosok-sok ajaib tersebut akan selalu tercatat selama sejarah masih tertoreh.

(udah ya,...gw ngga perlu nulis sosok-sosok tersebut.  Udah bosen)

Tapi pernah ngga terlintas di otak-otak jenius loe, kalau sesungguhnya celana dalem memegang peranan yang ngga kalah penting dalam perubahan dunia (hehehe...pusing-pusing loe)

Contoh satu aja ye.  Albert Einstein, si jabrik super jenius yang namanya selalu jadi ikon tekhnologi modern.  Apa mungkin doski mberojol ke dunia kalau aja bapaknya ngga pernah mbuka celana dalem yang dipake ibunya...? (hehehe...loe mo pake rumus Sinus, Cosinus, Tangen juga ngga bakalan bisa...)  Apa mungkin loe warawiri sama yang namanya handphone, smartphone, Iphone, kalau aja abahnya Alexander Graham Bell (penemu dasar-dasar telephone) ngga pernah meloritin celana dalem emaknya...?

Yaahhh emang sich kalo ‘keyword’ yang sesungguhnya bukan semata celana dalem, melainkan ‘sesuatu’ yang menggeliat-geliat di balik celana dalem.  Wooiii, bukan cacing....!!  tapi jari-jari....wkwkwkw....

Coba loe inget-inget, hal apa yang pernah mengguncang gedung putih (maksudnya White House di Amrik dodol,...bukan kuburan tempat nongkrong pocong) selain tragedi 11 September sama skandal watergate...?  Kan skandal termelorotnya celana dalem Monica Lewinsky oleh tangan dingin....siapa hayooo...?

Dinegara kita juga banyak tuh kasus besar yang bermula dari celana dalem yang ‘termeloroti.’ Ngga perduli masyarakat terpelajar dan terpandang, atau yang ngga diajar dan ngga dipandang.

Jangan dikata kasus narkoba ngga berkaitan sama celana dalem, karena banyak pecandu narkoba memulai debutnya karena keluarga mereka broken home, lantaran salah satu ortunya membuka celana dalem orang lain, atau dibukain orang lain.

Apalagi kasus perkosaan. Kan kalo hasil visum ngga terbukti ada sesuatu yang tercederai di balik celana dalem, bisa aja cuma masuk kategori pelecehan seksual.

Tuh kan, akhirnya kita emang harus legowo untuk mengakui kalau celana dalem emang terbukti telah mengubah dunia.  Mengubah peradaban.  (tapi kalo loe masih gak percaya, coba aja loe buka celana dalem yang lagi loe pake di bunderan HI.  Kalo ngga dibilang gila, paling loe dicap sebagai orang yang tidak beradab)  Huuhhhuuii,....celana dalem

(seusai nulis, gw tertidur pulas, dan bermimpi, sedang......ngangkat celana dalem gw yang lagi di jemur....siaaaaalllll,...mimpi lagi m buka celana siape keq gitu. Cuma mimpi aja koq ngangkat celana dalem di jemuran sich)

STOP KEKERASAN.....STOP PERANG...........!!!!

Saturday, June 16, 2012

NYALI JAMES BUSTER DOUGLAS

Tinju adalah salah satu olah raga yang gue suka banget.  Dari anak-anak malah.

Gue seneng kuadrat  tiap liat salah satu lawan sempoyongan kena bogem, trus rubuh kejengkang dan K.O.  Ada perasaan yang ngga terlukiskan saat nonton dua sosok laki-laki tanpa baju dan penutup kepala berhadap hadapan dan jual beli pukulan.  Jab, hook, upper cut, body moving.  Pokoknya keren banget deh.  Macho banget.

Makanya gue tahu banyak kisah-kisah di ring, serta petinju kesohor sejak teve masih item putih.  Dari Sugar Ray Robinson, Jack Dempsey, Sony Liston,  Rocky Marciano, Muhammad Ali, George Foreman, Joe Frazier, Sugar Ray Leonard, Marvin Hagler, Thomas Hearns, Mike Tyson, Holyfield, James Buster D, Roy Jones, Julio Cesar Chaves, hingga Oscar De Lahoya dan  Manny Pacquiau.

Dari sekian banyak seniman ring, Tyson juga salah satu gacoan gw.  Brutal, ganas, cool dan extra power.  Banyak lawannya yang cuma bertahan 1 ronde.  Malah dari total K.O-nya, angka rata-ratanya ronde 3.

Kebanyakan petinju yang siap nantang Tyson udah ciut duluan saat nonton video pertandingan Tyson, guna mempelajari taktik dan strategi untuk meredam si-leher beton.  Apalagi saat merasakan bogemnya menerpa bagian tubuh.  Hampir setara di tabrak RX King berkecepatan 70 Km/jam, ato diseruduk banteng  tanpa  tanduk.  Michael Spinks aja sampe keilangan warna item di matanya sekian detik saat dijotos Tyson.  Malah ada petinju berjulukan ‘si-pelumat tulang’ alias Bonecrusher justru ngerasain gimana tulang rahangnya kegeser di sambar hook Tyson.

Singkatnya, hampir semua petinju kelas berat saat itu memilih menghindar ketemu Tyson, daripada  ngotorin ring tinju.  Nyali mereka hilang ditiup aroma mulut Tyson. Wkwkwk…. 

Hingga akhirnya muncul si-James Buster Douglas.  Petinju segede pohon beringin yang waktu di wawancara sempet ngomong: ‘Kalo Tyson udah makan baut, mur, paku payung ato pintu mobil, gue nolak naek ring..’
Douglas bukan petinju terkenal.  Malah pertemuannya dengan Tyson yang bikin dia dikenal orang.

Konon, ia cuma 1 x nonton rekaman video tarung Tyson.  Semuanya yang kalah K.O paling parah. 

Lonceng pertama di bunyiin.  Kalo petinju lain mikir 1000x untuk melanjutkan ke ronde selanjutnya saat pukulan Tyson nyungsep ke perut ato wajah mereka (walau mungkin masih bisa bangun waktu kena gebuk, mendingan pura-pura tengkurep terus di kanvas sampe itungan ke-10 selesai)   Tapi tidak buat si-James.  Walau sempat jatuh di ronde- 8, dia bangun dan balik membuat Tyson terjungkal dan  merangkak di kanvas sambil ngunyah karet pelindung giginya.  Ironis banget.



Nyali.  Adalah satu yang membedakan Douglas dengan petinju kelas berat lain pada masa keemasan Tyson.  Douglas punya nyali buat melototin Tyson saat arahan wasit sebelum lonceng.  Punya nyali buat bangun di hitungan ke-7 waktu dia terjungkal ke kanvas.

Dan terbukti, kalo nyali yang membuat Douglas menang di Jepang pd Pebruary 1990 itu, menginspirasi petinju lain untuk menerma fakta kalau Tyson bukannya tidak bisa dikalahkan. Karena sejak itu, si-leher beton dirudung kekalahan K.O.

“Jika kamu ingin mencoba, cobalah, lakukanlah karena kamu tidak akan pernah tahu (apa yang akan terjadi)," kata Douglas beberapa saat usai pertandingan.

Buat gue, tinju adalah salah satu bentuk aktualisasi jiwa lelaki sejati (bukan rokok kalee…) sama sekali bukan kekerasan, apalagi penganiayaan.  Beda jauh coy.  Karena tinju itu olah raga keras yang gentleman.  Satu lawan satu.  Bukan keroyokan, ato penembakan gelap, yang cuma bisa dilakukan para pengecut.  Di tinju ngga nguber orang pake golok, tombak, panah, apalagi Molotov.

Di tinju juga ngga bakalan ada acara cincang mencincang kayaq daging ayam tanpa tulang saat lawannya udah tergeletak di kanvas.  Karena tinju adalah kolaborasi olah raga, bisnis dan seni yang dikemas dalam satu paket.



Sepenggal  keringat……

Nyali, ato keberanian untuk berbuat benar adalah hal penting guna menunjukan jati diri kita.  Keberanian untuk berbuat benar  harus jadi panggilan jiwa yang mendarah daging.  Karena tanpa itu, kita akan memilih jadi bunglon yang cari aman dengan berubah-ubah warna.

Thursday, June 7, 2012

JUICE IKAN MAS

Wkwkwkwkwk………………..

Sebelumnya, ijinin gue menghaturkan penghargaan atas kenorakan, kekaguman dan kesialan loe semua.

Alasan gue menghaturkan penghargaan atas ke-norakan loe: sehaus-hausnya loe akan rasa ingin tau, kan seharusnya logika loe udah mengisyaratkan ‘cling’ pada ketidak wajaran judulnya sebelom loe baca lebih lanjut.  Mungkin kalo judulnya juice kedondong ato salak, yah gue anggap ada sedikit nilai kewajarannya.  Tapi juice ikan mas,…alamak.  Dan maaf, itulah sebabnya gue bilang loe norak.  Malah kalo ada pemilihan ‘orang paling norak tahun ini’ gue bakal nyalonin (bukan masukin loe ke salon, tapi mencalonkan) loe sebagai salah satu kandidat.

Alasan gue menghaturkan penghargaan atas ke-kaguman loe: wajar kan kalo gue menghargai kekaguman loe.  krn gue yakin alasan loe mbaca tulisan ini bukan lantaran judul, tapi Karena kekaguman dan keterpesonaan loe ke gue (please deh,…ngga usah tersipu malu gitu kalee…) and gue rela-serela relanya memberikan ke loe, not only tanda tangan, tapi juga cipokan (ntar gue bela-belain deh buat scan bibir gue…..)

Alasan gue menghaturkan penghargaan atas ke-sialan loe: mungkin sebenarnya loe termasuk satu dari jutaan orang yang hidup beruntung.  Tapi untuk kasus ini loe bener-bener sial. Knapa..? udah cape-cape menjelajahi maya (upss, maksudnya dunia maya), entah pake goggle, snorkel, fins ato masker,  dengan harapan dapet sesuatu yang punya kontribusi positif ke hidup loe, eh malah ng-klik judul abnormal beginian.  Apa itu bukan sial namanya. kaing,...kaing,...kaing

Penutup…………

Ikan mas bukannya ngga bisa dibikin juice, tapi gue ngga bisa njamin apa-apa.  Entah dari segi rasa, atau kesehatan (apalagi kalo ikan masnya di besarin di jamban..hiiii).  Begini cara bikinnya:

Pertama, siapkan blender (ukuran atau mereknya terserah)

Ke-dua,  sediain ikan masnya (mau beli sendiri atau nyolong,…bukan urusan gue..)

Ke-tiga, sediain susu kental manis atau madu secukupnya (supaya rasanya lebih kacau)

Ke-empat, masukin ikan mas plus dua gelas air dari aquarium yang udah seminggu ngga diganti, barengan sama susu atau madu secukupnya

Ke-lima, colokin blendernya ke stop kontak, lalu ON

Kabuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……………..


Damai itu Indah. Suer. (tapi jangan dicampur adukin damai dengan kompromi…)

Friday, June 1, 2012

PELAWAK JUGA MULIA


Kalo disuruh menyebutkan profesi yang masuk kategori ‘mulia’ mungkin jarang banget yang memasukan pelawak/comedian sebagai salah satunya.  Masa sih Mr. Bean, Srimulat, Jojon, Indro, Sule, Parto, Abdel, Temon, di bilang mulia.  Kalo gelo mungkin iye.  Hehehehe……

Tapi pernah ngga loe rasakan gimana suasana hati loe waktu terpingkal-pingkal sampe ngeluarin air mata lantaran  banyolan mereka.  Mungkin saat itu loe lupa kalo rumah tangga loe udah diujung tanduk, abis dimarahin atasan, abis kehilangan duit jutaan, ato baru aja mengalami suasana duka.

Menurut penelitian yang pernah dilakukan sekelompok dokter di Amerika Serikat beberapa waktu lalu, ketika seseorang tertawa, ada satu bagian dalam organ tubuh yang memproduksi sebuah zat yang memicu peningkatan system imun, atau kekebalan tubuh manusia.  Ajaib ngga tuh…?

Coba deh inget-inget, berapa banyak orang yang tekanan darah tingginya naik setelah ketawa terpingkal-pingkal saat nonton lawak…? Hampir nihil, mungkin.  Bandingkan sama orang yang lagi marah besar.

Pernah ngga loe pikir, kalo merelakan diri untuk jadi bahan tertawaan orang lain adalah sebuah pengorbanan…?  Melawak bukanlah persolan mudah coy.  Itu seni.  Sebuah dedikasi sederhana terhadap kemanusiaan.

Seorang yang punya aura lucu cenderung dirindukan.  Karena mereka slalu mampu mencairkan kebekuan, menciptakan kehangatan dan membuat orang lain melupakan (walau sesaat,.. mungkin)berbagai persoalan hidup.  Mereka kerap tampil bagaikan udara segar dalam kesesakan.

Kalaupun banyak pelawak yang tidak berbahagia dalam hidupnya, itu persoalan lain.  Tapi buat gue, membuat orang lain bahagia adalah sebuah kemuliaan.

Gimana,…siap jadi pelawak..? Hahahahahaha…….


Tuesday, May 22, 2012

JENIS KELAMINKU: MALE


(moga-moga gak ada yang protes sama judulnya)

Kalaupun ada, kan gue boleh balik nanya, om, mas, mba, sus, akang, pak le, bu, ara, apa yang salah…..? Kan kalo kita disuruh isi data dalam bahasa Inggris ada pertanyaan, Gender: female/male.  Masa gue mau ngisi female.  Kan gue laki, musti Male dong.

Seandainya ada orang yang nama belakang, atau marga-nya Male, mungkin aja doski keturunan Inggris, ato termasuk keluarga yang sangat menjunjung tinggi sifat-sifat kejantanan.

And ngomong soal jantan, kayaqnya udah ngga ada lagi dech bidang-bidang yang di-klaim sebagai ‘laki banget’ ato ‘jantan banget’  Panjat tebing, misalnya.  Sekarang udah ngga lagi milik kaum pejantan.  Banyak koq betina yang doyan manjat.  Begitu juga sama nge-rokok, nge-drugs, sampe pengedarnya, Cewek juga banyak.  Direktur, sopir, tukang ojek, petinju, pegulat, sampe presiden.  Udah ngga sedikit yang dirambah kaum hawa, alias betina. 

Gue yakin semuanya bukan semata karena dorongan adreanalin betina, ato pengaruh perjuangan R.A Kartini yg kita hafal sebagai emansipasi, tapi juga lantaran kaum pejantan udah mulai ngelakonin banyak hal yang di klaim sebagai ‘perempuan banget’.  Kan ngga sedikit di jaman sekarang kaum jantan, atau male yang juga doyan luluran, cem-ceman, facial, creambath, manikur, pedikur (padahal doski tekukur…wkwkwk..).  Whatever,…gue ngga bermaksud menghakimi loh (sory, gue bukan hakim coy…!), kan itu hak masing-masing.  Hak Azasi Mahluk, gitu bahasa premannya.

And juga, kesahihan tersebut emang udah jadi adat koq di beberapa belahan bumi.  Kita mungkin inget sama adat Matrilineal, yang menekankan pada garis keturunan ibu.  Ato juga, pihak wanita lebih dominan dalam banyak hal.  Entah pengambilan keputusan, ato garis komando.  Jadi emang ngga ada yang salah koq sama itu semua.

Cuman gue sering ngerasa  kurang sreg sama  norma-norma kejantanan- yang umum kita kenal dengan gentleman-yang kliatannya udah banyak luntur.  Entah pengaruh deterjen, ato apa, gue juga ngga tahu. Soalnya, in my opinion, gentlemen itu gak semata perkara mbukain pintu buat wanita, ato narikin kursi untuk duduk sang mahluk indah tersebut.  Gentleman juga bukan semata kayaq Wong Fei Hung di ‘Once Upon A Time In China’ ato kakang ‘Rambo’ ato juga John McClane di ‘Die Hard’

Gentleman itu perkara attitude.  Yang dalam bahasa bloon gue artinya…’kukuruyuk…………’

(bingung….? Sama. Gue juga...) 

Saturday, May 19, 2012

IKAN KAYU DAN PROSPEKNYA


Kalo di bagian sebelumnya saya pernah menulis tentang ikan kayu, di postingan ini saya mencoba mengajak pembaca untuk sedikit mengintip prospeknya.
Pembukaan…….

Kalo anda tanya orang Jepang yang paling ahli soal ikan kayu,  saya bisa memastikan mereka ngga akan mau meng-klaim sebagai ahli.  Paling mereka bakalan bilang “masih belajar”  Bisa aja mereka bener, karena budaya mereka memang menuntut untuk terus mencari dan mencoba variasi  yang bisa diciptakan dari produk ikan kayu.   Tapi kenapa ikan kayu ?  karena bagi orang Jepang, ikan kayu ibarat tempe dan tahu bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.  Lebih khusus Jawa.

Tapi mereka punya persoalan, yakni  keterbatasan bahan baku,  hingga terjadi ketidak seimbangan antara permintaan dan ketersediaan.   Produksi dalam negri Jepang sendiri baru dapat memenuhi  40% permintaan, hingga sisanya harus mereka impor dari Negara seperti Indonesia, Thailand, Philipina, dan Vietnam.

Berdasarkan  informasi, eksport ikan kayu Indonesia ke Jepang tidak lebih dari 25% dari 60% kuota yang dapat diperebutkan.   Peluang.  Merupakan ejaan yang sangat di pahami pebisnis.

Sepengetahuan saya, di Bitung (khususnya) pernah mengalami kondisi dilematis antara pengusaha penangkap dan pengolah.  Pengusaha penangkap complain ke Pemda saat tangkapannya melimpah tapi tidak bisa di tampung pengusaha pengolah, hingga meminta Pemda membuka kran eksport beku.  Lalu, ketika kran eksport di buka, giliran pengusaha pengolah yang complain karena kehabisan bahan baku.

Kenapa saya antar pembaca pada fenomena di Jepang dan Indonesia (diwakili Bitung)….?  Simple.  Kalau ada yang tertarik berkecimpung di bisnis ikan kayu, sebaiknya pengusaha penangkap.

Penutup……….

Gimana sich prospek ikan kayu ? Harusnya bagus.  Setidaknya di bawah leadership yang capable.
Teorinya…? 

Ikan kayu cuma olahan tradisional yang kuncinya cuma di perebusan (boiling) dan pengasapan (smoking).  Ngga susah.  Sistemnya yang sedikit perlu sentuhan, tapi kedepannya bisa jadi bukan aja di Jepang, China, Korea, seperti yang selama ini, tapi juga Eropa dan Amerika.  Gejalanya udah kliatan koq.

Hitungannya….?

Utk menghasilkan 1 kg ikan kayu kering (kadar air 20%), di butuhkan 5,55 (bulatkan aja 5,6) kg bahan mentah.  Yield 18%.

Lama proses (1 siklus) dari mentah sampe kering: 14 hari

Bahan baku utama: cakalang (Katsuwonus pelamis) dan tongkol/deho (Eutynus sp)
Bahan pembantu utama: kayu bakar (utk proses pengasapan) dan solar/batu bara (utk proses perebusan)

Hitung yuk…!

Anggap proses 10.000 kg/hari. 10.000 x Rp.15.000 (hrg cakalang/kg) = Rp. 150 jt

Tenaga kerja : Rp/kg (tergantung produktifitas kan…)

Kayu: Rp/kg (tergantung produktifitas kan…)

Solar: Rp/kg (tergantung produktifitas kan…)

Jadi : 10.000 ; 5,55 = 1.801 kg (kering)

Jual : (tergantung nego sama buyer) tapi anggap aja 880 Yen/kg.  kurs 107.
Total jual: 880 Yen x Rp.107 x 1801 kg = Rp. 169.582.160 minus (bahan baku + ongkos produksi) = ……?

Uppps, itu belom termasuk ‘sampah’ alias scrab, alias serpihan tulang dan daging yg diistilahkan sebagai fish meal. Jumlahnya 18% dari total proses mentah. 

10.000 x 18% = 1.800 kg/hari x Rp. 750 = Rp. 1.350.000


Kalo hari prosesnya 25 hari, bisa dong ngitung sendiri…..

Ok, sekian dulu dech.  Sory, saya ngga bisa nyusun deskripsinya lebih bagus.

Kalo ada yg tertarik untuk lanjut,..silahkan email ke: ry_ticoalu_17471@yahoo.co.id

Catatan:
Satu, lebih baik saya kasih tau duluan:  saya tidak bertanggung jawab dalam hal pemasaran (kalo ada yang tertarik,…heheheh….), soalnya saya bukan orang pemasaran.

Dua, untuk institusi pendidikan harus menggunakan e-mail institusi saat contact. Saya bakal bantuin ngeset peralatan produksi skala kecil.

Thursday, May 17, 2012

SEPERTI MATA DEWA


Suer,… by the moon and star in the sky,…gue ngga bakalan ngebahas bagian organ mata.  Entah  Kornea, Sklera, pupil, iris, retina, dsb.  Coz it isn’t my teritori.  Tapi gue bakal ‘mengupas’ mata berdasarkan perspective awam gue.
Banyak temen yang bilang, gue kalo lagi bawa BMW  tegang banget.  Cuek and ngga pernah negor.  (BMW=Botor Mribadi Wue).  La iyalah, masa mbawa kendaraan mau negor-negor, emang gank motor…?  Slain itu, gue emang udah rabun jauh.  Ngga bisa kenal orang dengan baik di jarak lebih dari 20 meter. 

(Cuman gue males pake kacamata.  takut diuber cewek-cewek lantaran dikira Afgan….kukuruyuk…)

Ngomong soal mata, kita emang musti bersyukur pada Sang Pencipta lantaran anugrahNya tersebut.  Bayangin kalo Dia lupa mbikin mata buat kita.  Ato sudahlah lupa, karena ampir mustahil Dia lupa.  Tapi coba kalo Tuhan naro mata bukan pada tempatnya.  Misalnya, di puser, ato di ubun-ubun…? Ato, yang satu dipuser, lainnya di ketiak.  Wah ngga proporsional banget kan. (Tapi kasian juga kalo di puser, ntar melototin yg ada di bawahnya terus...wkwkwkw...)

Bukan itu doang.  Mata juga berkontrbusi linier ke tingkat perekonomian loh.  Kan ngga sedikit orang  jadi kaya lantaran organ ini.  Dokter spesialis, pencipta dan distributor teropong bumi, kacamata, contact lens, mikroskop, obat tetes, industry oomotif, sampe sang creator Facebook, si-Mark Zucenbergk (setau gue belom ada Facebook buat tuna netra….)

Bahkan, di dunia kuliner ikan, terbukti kalo kandungan  DHA dan EPA (yang bikin orang jadi pinter dan ngga gampang pikun), justru lebih banyak di temukan di sekitaran ‘belakang’ mata.  Eh, tapi gue sempet mikir loh, darimana ya kakek nenek kita tahu kalo di area mata ikan itu banyak kandungan sakti yang bermanfaat? Kan dulu belom ada Fakultas Perikanan? Coba deh perhatiin kalo kakek/nenek makan ikan, pasti  mereka bakalan nyedot dengan kekuatan 5 tenaga kuda di bagian mata.

Ngga cukup sampe situ, konon udah beberapa Negara yang menggunakan deteksi retina sebagai sandi akses pengaktifan sebuah program, ato membuka sebuah pintu ato brankas.  Karena menurut Para ahli, bagian tersebut juga sama dengan sidik jari: ngga ada yang sama di antara milayaran jumlah penduduk dunia. 
Mata juga udah merambah hingga ke tata bahasa.  Liat aja penggunaan kata mata hati, mata air, mata-mata, mata jalan, mata keranjang, mata rantai, mata bor, dsb.

Di dunia seni, mata juga terbukti udah mengambil peran yang sangat besar. Dari syair lagu legendaries, sampe ke lukisan fenomenal yang dihargain puluhan juta. 

Mata emang amazing organ walau  tetap ada ‘batasan’-nya.  Karena mata cuma bisa menggeledah tampilan luar, alias kemasan luar.  Itu sebabnya banyak terlontar statement sbb:

“Gue kirain pinter” (lantaran tampilannya meyakinkan smart)

“Gue kirain orang baik” (lantaran sering senyum, rapih-rapih, dan pancaran matanya ramah)

“Gue kirain orang jujur” (lantaran ngga pernah keliatan nyolong/korupsi)

“Gue kirain……”

“Gue kirain…bla…bla….bla….”

Ngga taunya………………………….ampooooooonnnnnn

Banyak orang  menggunakan ‘kekuatan mata’-nya justru untuk memperdaya keterbatasan pandangan orang lain.

Tapi buat gue, selemah apapun kemampuan jelajah mata lahiriah seseorang, mereka musti bersyukur sesyukur-syukurnya kalo kolaborasi otak dan hatinya udah berada pada tahap metamorphosis ke jalur PENCERAHAN.

Mungkin itu yang dimaksud bang Iwan Fals dalam lagunya “Seperti Mata Dewa”

Only Iwan knows………..!

Friday, May 11, 2012

AMAZING TATTO


Buat sebagian besar orang  tatto emang bukan ide yg bagus (kecuali si-Tato temen gue..)  Malah berbau kriminal.  Karena di benaknya,  tatto made in jail.

Tapi faktanya,  di jaman ini tatto bukan lagi brand golongan hitam, melainkan ekpresi  dan letupan jiwa yang mencintai seni, kebebasan, serta petualangan.  Malah udah jadi salah satu ladang subur untuk menambah pundi-pundi ekonomi.  Nato sekarang sampe jutaan coy.  Yah tentunya yang gambarnya keren dong, kalo cuma gambar kran sama slang aer mah paling 20 rb (tapi kalo panjang slangnya sampe 7 km, pasti tukang tatto-nya minta tambah….hehehe…)

Emang ngga bisa di sangkal juga sich kalo ada sebagian orang yang nato supaya stylish, keren, trendi and macho(kalo cewek machi….hehehe…), ato lantaran pengaruh emosi dan sentimentil.  Lah wong waktu nato lagi hot-hotnya falling in love sama si-Cingcangkeling, jadi terukirlah dengan indahnya di dada kiri (supaya deket hati katanya…!)pake italic. Cingcangkeling forever (hehehe….kayaq Batman forever..) 

Itu sebabnya ngga sedikit yang nyesel bikin tatto, dan akhirnya pengen diapus, karena pengen jadi PNS, Tentara, Polisi, ato lantaran si-Cingcangkeling udah pindah ke lain hati, dan berganti sama Manukjinten…..kikikikikik

Kalo banyak orang nyesel udah bikin tatoo di bagian tubuhnya, gue justru nyesel karena ngga sempet bikin tatto keren di tubuh keren gue (hehehe…) Udah telat.  Umur gue udah  41.  Kalo 2 cewek kecil gue protes, trus nyuruh tambah gambar Shaun the sheep sama Squid ward kan bisa berabe…hehehe…

Gue inget sebuah film tentang seorang tahanan yang hampir sebagian tubuhnya di penuhi tatto. Belakangan diketahui kalo rangkaian tato  indah tersebut merupakan denah penjara yang dipersiapkannya untuk meloloskan diri.

Walau kontroversi halal dan haram soal tatto masih mengemuka, tapi  gue nganggap tatto itu ekspresi seni  jiwa-jiwa yang penuh vitalitas dan imaginasi.  Tatto bukanlah representasi kepribadian pemiliknya.   Sama dengan pepatah yang bilang: “Don’t judge the book from the cover”

Karena ngga sedikit koq orang yang mulus bodynya, ngga semulus pahanya (upss,.. maksud gue kelakuannya geetooo…)

Gue punya banyak temen yang tatto-an, tapi they aren’t  bad people.  Malah salah satunya Pendeta.

“Ngapain gue apus, ini kan masa lalu gue.  Kalaupun sekarang gue udah dapet pencerahan, kan setidaknya tatto ini bakalan mengingatkan diri gue kalo gimana gue dulunya”  si-Pendeta senyum ke gue.

Tapi bener koq,  naïf banget loh rasanya kalo kita nolak orang karena alasan tatto. Kan bukan berarti si-Robin itu pedagang buah, cuma lantaran ada tato apel di punggungnya.

Ngomong soal tattoo, ada banyak loh cerita lucunya.  Salah satu waktu gue masih senior di Mapala. 
Ada temen yang senior juga, yang termasuk golongn orthodox, alias ogah ngeliat tubuh yang digambar-gambar, waktu kegiatan lapangan dia manggil salah satu yunior yang di kedua kakinya ada tatto. Di kiri kupu-kupu, di kanan hiu. Ngga tau dari mana ide gilanya datang, dia nyuruh si yunior mengadu kedua ‘binatang peliaraannya’ tersebut.  Kupu-kupu vs hiu. Wkwkwkwk…..seharian si-yunior nggosokin kedua kakinya yg ada tatto tersebut.  

 Penutup………

Gue udah sering liat ato denger soal variasi tatoo berupa gambar ato tulisan yang sangat beragam, tapi belom pernah denger ada orang yang tatoo-nya  tabel-tabel kas pembukuan,  grafik seismograf gempa bumi, ato Pembukaan UUD ‘45

Gue juga belom pernah denger ada orang punya tato uterus (rahim) cuma karena dia dokter spesialis kandungan

Tapi sempet menghayal, siapa tau di kemudian hari profesi seseorang bakal ditandai oleh tatoo salah satu perangkat yang digelutinya.  Pemain bola tatonya bola, pencipta lagu tato-nya not balok, sopir tato-nya mobil, dll.  Konyolnya, gimana kalo ybs dokter spesialis kulit dan kelamin……?

(hampir bersamaan dengan di postingnya tulisan ini, Indonesia kembali bersedih karena jatuhnya pesawat Sukhoi yg menewaskan 47 orang.  Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.  Kiranya Tuhan menguatkan keluarga yang di tinggalkan)

Tuesday, May 1, 2012

BERAPA HARGA LOE.....?


Waktu makan siang kebetulan gue nonton salah satu acara TV swasta yang menyangkan ‘harga’ bayi-bayi mahal.  Satu yang termahal adalah bayinya Brad Pitt dan istrinya, Angelina Jolie.  Gue lupa umurnya berapa bulan.  Tapi harga photonya untuk bisa di muat salah satu majalah Amerika, mencapai 127 Milyar.  Oh my God…….(nasi yang udah nyelonong ke mulut gue berenti sejenak…)

Hampir bersamaan dengan berita ‘bayi mahal’ tersebut, di saluran TV lainnya lagi menayangkan demo buruh, berkaitan dengan May Day.  Hari buruh sedunia.  Trus gue coba kaitkan harga foto bayinya Brangelina, sama UMP (Upah Minimum Propinsi) Sulut.   127.000.000.000 : 1.050.000 (UMP).  Dengan kata lain, foto-fotonya ‘bayi mahal’ tersebut setara dengan gaji 120.952 orang buruh dalam sebulan.  Astaga……

(sory temen-temen buruh, gue ngga punya niat jelek koq melakukan pembandingan tersebut….suer)

Kita emang ngga bisa mengelak kalo di dunia kita, yang namanya Rupiah, Dollar, Yen, Euro, dll, udah ‘dipatenkan’  sebagai parameter untuk mengukur ‘harga’ seseorang.  Sah-sah aja koq.  Terima aja dengan legowo, ngga usah pake kalimat: “Tapi kan….”

Kita bakalan capek sendiri berargumentasi  membela posisi ‘harga’ kita yang mungkin masih rendah, dengan berbagai alasan yang berbau agamais, atau filosofis.  Bukankah selama kita masih hidup kita selalu berpeluang meningkatkan ‘harga’ kita.  Setidaknya di mata orang-orang yang mencintai kita (hehehe…filosofis juga….)

Mau tahu berapa harga gue…? 93 kg (berat gue) x Rp. 14.000 (harga ikan Cakalang sekilo)= Rp. 1.302.000

(uuhhfff, moga-moga anak/istri/ortu/ade-ade gue ngga mbaca, hehehe…..ntar gue dimarahin kalo mereka tau harga gue segitu)

Berapa harga loe..?