Tabea,...
Salam untuk semua orang Sangihe. Met taon 2022.
Kalo gue nulis bahwa Sangihe ngga berubah significan sejak
12 taon lalu, itu kan opini and perspectif gue.
Lah emang gue bukan orang Sangihe yang menetap di sono. Gue cuma ke Sangihe 1 taon sekali ato dua
kali. Ngunjungin kampung halaman nenek
moyang istri tercinta gue.
(ada bagusnya, sebelom lanjut, loe baca tulisan gue 12 taon
yg lalu. klik ini aja: https://skysoputan.blogspot.com/2010/12/tahuna-kota-kecil-yang-misterius.html
Kalo ngomong pembangunan, pastinya ngomong ekonomi. Dan ekonomi, bakal berkaitan sama
sentra-sentra. Udah, sampe situ aja yang
gue tau dikit. Xixixixi,...
Tapi gue coba kutip apa kata Presiden R.I, bpk Jokowi.
“Ini tugasnya
pengusaha melanjutkan apa yang telah dikerjakan pemerintah ini dengan membangun
sentra-sentra ekonomi, pusat-pusat ekonomi, yang sangat penting bagi
pertumbuhan ekonomi kita,”
Kata Presiden Jokowi dalam acara Silaturahmi Nasional
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan buka puasa bersama anak yatim
yang digelar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta,
Kutukupretnya nih, pembangunan ekonomi sebuah daerah senantiasa
berkonektifitas sama geliat politik.
Dunia abu-abu yang engga pernah gue pahamin.
Hehehe,...
Ni cuma contoh yang terjadi beberapa waktu lalu. Yah, lagi-lagi menurut perspectif awam gue
sih.
Kan Bupati yg
sekarang memerintah kostumnya kuning, tapi sebelumnya sang Bupati berkostum
merah. Nah, waktu pak Bupati masih pake
kostum merah, pas mau pemilihan ulang, Agen kostum merah ngga berniat
mencalonkan sang Bupati, tapi justru menyodorkan calon laen. Jelas aja Bupati lama ‘blingsatan’
“Enak aja loe. Mosok gue penguasa Kabupaten ngga di calonin...”
Yah kurang lebih bgitu ‘siulan rahasia’ sang pemimpin Kota.
Dengan mengerahkan semua sumberdayanya, sang Bupati
bersepakat dengan Agent kaos laen. Agent
Kuning. Dan di mulailah pergulatan
menuju tampuk singgasananya yang coba ‘direbut’ dg tidak elok.
Sambil menggandeng salah satu sosok beken kota Tahuna, yang
juga mantan penata rias legendaris kota tersebut, dimulailah petualangan
politik di rimba kejam tapi tampak santun: Pilkada.
Dan ajaib. Lewat
pergulatan panjang yang tidak hanya melibatkan sekumpulan teman, kerabat, dan
handai taulan, tapi juga kekuatan magic adikodrati (organisasi Gereja), sang
Bupati yang berkuasa, kembali memenangi pergulatan tersebut hanya dengan sekali
gebrak.
Kostum Kuning menyeruak memenuhi Pantai, Gunung, Lembah, dan
seantero perkotaan.
Sayangnya, kenelangsaan justru bermula dari sana. Yah, lagi-lagi,...menurut perspectif
gue. Hehehe,...Sang Bupati terpilih yang
di anggap mbalelo oleh agent merah memerintah dengan kuyu, kusam, dan
loyo. Terlihat jelas dari pembangunan
kota yang tampak jalan di tempat.
Semuanya biasa-biasa saja.
Hambar, laksana garam kurang sayur,...eh salah, maksudnya sayur kurang garam.
Tau kenapa ? Senyum dulu sebelum lanjut.
Politik acakadut. Yah,
karena Bupati Sangihe dianggap mbalelo oleh merah, jadi aliran dana yang
seyogyanya di suntikan untuk pembangunan dan perkembangannya jadi
tersendat-sendat (atau di sendat-sendatkan) sebagai bentuk ‘hukuman indah’
akibat tindakan pembaleloan tadi. Ato,
para calon investor yang bisa di arahin ke Sangihe, engga di fasilitasin sama
petinggi agent warna tertentu yang singgasananya
lebih tinggi dari Bupati.
Tapi yah bisa juga sih ada opsi dugaan ke-2: Dana besar
kemungkinan sudah di alirkan dengan sukses, tapi,...ehmmm,...ehmmm...only God
knows.
Please forgive me God,....
Sekarang, posisi Bupati akan di
pegang oleh Pejabat Sementara, sambil menunggu Pilkada mendatang di 2024. Dan siapapun sosoknya, Sangihe ngga akan
banyak bergeming. Kusam, loyo, dan bakal
biasa-biasa saja. Hehehe,...lah wong di pegang Bupati aja gitu,
apalagi,...upsss,...sory,..sory. bukan
maksud gue mengecilkan makna pejabat sementara.
Silahkan loe-loe nilai sendiri deh kesono-kesononya.
Sebagai penulis acakadut yang gak tau apa-apa soal penata
laksanaan kota, mungkin gue lancang kalo kasih masukan untuk Pejabat Sementara,
tapi tetep gue bersikukuh nulis untuk kasih masukan.
Gini,....coba lah konsultasi sama
pakar-pakar yang asli pakar untuk gimana nanganin longsor yang selalu jadi
momok di Sangihe. Bukan gimana mbrentiin
hujan, tapi mengurangi potensi titik-titik
longsor, beserta dampaknya. Satu. Trus, perbanyak & perbaiki
sarana/prasarana untuk obyek wisata.
Hey, haloooo, orang Sangihe yang banyak duit banyak loh (Walau bukan gue salah satunya,...ehm,...gue berharap sih, hehe...) Yah, cuman
banyak yang ngga mau nunjukin. Kan kalo
Sangihe jadi menarik, nantinya para orang kaya Sangihe bakal manggil temen,
kerabat, and handai taulannya yang kaya-kaya laen di seantero Indonesia, untuk
plesir ke Sangihe, and ngabisin duit di sono (apa masih mau gue ajarin
maksudnya ngabisin duit di sangihe,...?).
Dua tuh. And ke-3, Dagho jangan
cuma dianggurin kwa. Kelola yang
serius. Kalo susah dibikin sentra Perikanan, bikin kayak Ancolnya Jakarta kek,..Sumber duit tuh broe,.....
Terakhir. Untuk agent
kostum warna-warni (politik bro,...politik).
Kapan sih loe-loe bisa tulus untuk rakyat....? Slogan kita masih Dari
Rakyat, Oleh rakyat, dan Untuk Rakyat kan ?
Kalo ngga bisa konsisten sama slogan tudia,...ya ganti aja. Misalnya, berakit-rakit ke hulu,...berenang
aja sendirian. Hehehe,...untuk Rakyat
ngga usah kebanyakan drakor kwa....
Penutup.
Mungkin bakal ada pejabat, atau warga Sangihe yg sial banget mbaca tulisan gue,
trus keberatan, and koment:
“Eh, kalo bikin
tulisan, coba yang realistis dong. Cari
data-data akurat yang bikin tulisan kamu seimbang. Jangan sepihak. Jangan fitnah...”
Gue mah bakal nyantai aja.
Kan ini tulisan gue. Opini,
sekaligus perspectif gue. Terserah gue
dong. Sama ama pelukis yang ngelukis
laut berwarna kuning. Kan waktu dia di
tanya kenapa laut warna kuning, bisa aja dia ngomong kalo itu mimpi waktu dia
tidur yang kemudian di lukis.
terinspirasi waktu di tempat makan di Mangrove,...29 Dec 2021
(notes: semua gambar minjem dari mbah Google)