Kalo dulu, sekitar 20 – 30 th lalu, ngomong soal ngopi adalah kisah nongkrong kaum lelaki, yang suguhan minumnya adalah segelas cairan hitam berampas dengan kepulan asap tipis membubung.
And bicara soal rasa, cuma 3. Pahit total, pahit agak manis, atau pahit manis bersusu
Perjalanan waktu mengubah dunia kopi selamanya.
Kini, kopi bukan lagi dominasi kaum pria, tapi juga wanita.
Kopi udah bertransformasi dalam banyak rasa, rupa, atau tekstur.
Di era ini, kopi tidak lagi sekedar minuman remeh temeh di gang sempit, pinggir jalan, atau lorong-lorong remang berdebu seharga Rp. 5 ribu segelas. Tapi kopi sudah menjelma jadi suguhan elit kaum konglomer, kaum gen Z, and kaum papan atas, berbandrol ratusan ribu hingga jutaan segelasnya.
Kopi di jaman now juga saksi bisu banyak transaksi binis ratusan miliar, perselingkuhan dramatis, aktifitas spionase, atau perskongkolan licin nan lihai yang mengawali runtuhnya sebuah kekuasaan.
Kopi adalah lifestyle, sekaligus war table untuk menyusun siasat perang gaya baru, bahkan kepompong baru guna melakoni money laundry. Padahal,...kopi kan,..ah, sudahlah
