Sunday, November 25, 2012

BERCANDA DENGAN TUHAN


( Yang merasa waras sebaiknya gak usah baca)

Ide ini muncul tanggal 18 September 2012.  Waktu itu gue mau pulang istirahat makan naek Smash Titan biru kreditan yang sisa 10 bulan lagi.  Langit gelap, dan sebelumnya ada gempa lumayan kuat  beberapa detik.   Waktu ide judul ini melintas, gue berbisik ke Tuhan.  “Kalau Engkau kaga nurunin hujan sampe gue balik lagi ke kantor, tandanya Engkau setuju gue nulis tema ini di blog gue”

Hujan tetap aja turun, tapi gue ngga basah sama sekali.  Hahahaha,……ya jelas aja ngga basah, orang hujannya turun gue udah nyampe rumah.  Sory, ngga ada mukjizat bo…
Tapi gue toh tetep aja muat tulisan ini di blog.

=====================================

Sebagai  orang yang percaya kalo Tuhan itu ada, udah tertanam di hidup gue sejak kecil bahwa Tuhan adalah Kesucian, Ke-Kudusan, ke-Agungan, Ke-Maha Kuasaan,  dan Ke-Maha Kasih-an yang harus dihampiri dengan penyerahan diri dan kepasrahan dalam penyembahan.  Tidak boleh main-main.
Gbr diunduh dari yahoo

Tuhan, entah zat, atau sosok yang penuh misteri dan tak pernah berhasil diselami, atau disentuh oleh ajaibnya ilmu pengetahuan.

Kaum skeptis justru mengklaim Tuhan sebagai ‘hasil imaginasi’ manusia guna melarikan diri dari rasa sakit, keputus asaan panjang, serta kasur empuk tempat melandaskan seluruh kepenatan panjang kehidupan.  Tempat terindah untuk memalingkan wajah dari onak dan duri.
Gbr diunduh dari yahoo

Bahkan, apa yang dipercaya sebagai Tuhan makin lama makin ‘redup’ hadiratNya karena berbagai penemuan Fisika mutakhir.  Ironisnya, fenomena  ini diperkukuh oleh diamnya Tuhan.  Semakin banyaknya penemuan ilmiah tentang keberadaan alam semesta, justru menambah panjang  fase diam Tuhan.

Tuhan diam ketika manusia saling bantai dalam perang Dunia I dan II. 

Tuhan pun tetap diam saat bencana alam membantai jutaan manusia di berbagai belahan bumi.

Gue inget sebuah filsafat tentang Tuhan yg pernah di kirim via sms ke phone gue:

“Lebih baik kita percaya Tuhan itu ada, namun ketika kita mati ternyata Tuhan tidak ada, daripada tidak percaya Tuhan ada, namun ketika kita mati ternyata Tuhan ada”

Semua balik pada keinginan kita untuk meyakini atau tidak.  Toh kita tidak akan menanggung resiko mati mendadak hanya karena tidak percaya.  Loh, bener kan ?  Tuh di luar negri, banyak orang yang ngga percaya sama Tuhan, toh tetap hidup.  Panjang umur malah.

Ngga keitung jumlahnya orang super kaya yang menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya ‘tuhan’ yang mampu mengeluarkan mereka dari problematika kehidupan

Susah emang ber-argumen sama atheis yang nolak adanya Tuhan.  Ngga ada ujungnya.  Karena mereka juga punya ‘kitab suci’ yang memuat dalil ‘ketidak beradaan’ Tuhan.  Keyakinan mereka kalo Tuhan itu nonsen, sama baiknya dengan orang yang percaya Tuhan itu ada.  Nah loh....

Tapi secara pribadi  gue memilih untuk percaya  Tuhan itu ada.  Dan gue bahagia dengan kepercayaan tersebut.    

Kalaupun gue sempat terganggu dengan paham Atheis, tapi lama-lama gue bisa terima kenyataan kalau alam selalu ‘menciptakan’  kebalikan atas segala sesuatunya.  Ada putih, pasti ada hitam.  Ada atas dan bawah.  Ada baik dan jahat,  siang dan malam, baik dan buruk, dsb.

Ironisnya, Sang Maha Pencipta alam semestapun  tidak terbebas dari fenomena kebalikan tadi  di ‘dunia manusia.’  Dengan kata lain, Sang pencipta yang harusnya dipercaya hadiratNya oleh manusia,  juga berisiko untuk di tolak.  Sang Maha Pencipta  berisiko tidak dipercaya.  Dan nyatanya memang begitu.

Tapi itulah Tuhan.  Ia tetap Tuhan yg tidak pernah bisa ‘diselami.’  Karena tak perduli manusia percaya atau tidak kepadaNya, toh Tuhan selalu memberikan hujan dan panas yang sama pada mereka yang menolak, atau menerimaNya.    

Aduh, pusing juga  mikir.  Mungkin jauh lebih mudah bercanda dengan Tuhan.

Bercanda sambil coba-coba meragukan hadiratNya.  Bercanda  dalam doa  untuk memohon berkat dan perlindungan sebelum merampok bank,  korupsi, atau bercanda dalam doa meminta wanita muda nan cantik plus tajir untuk dijadikan istri  kedua, ketiga, atau ke-empat.

Tuhan, maaf ya.  Hehehe...Cuma bercanda.

Friday, November 16, 2012

IKAN SEBAGAI "BAHAN BANGUNAN"


Wkwkwkwk,.....gila apa ? Biarpun mau dibolak-balik pake rumus apapun, blom ada ceritanya ikan di pake jadi campuran pasir, batu ato semen.  Sehebat-hebatnya Jepang-pun di dunia perikanan, blom satupun bangunan tahan gempanya yang di bangun pake bagian-bagian tubuh ikan.

Begitu juga sama Belanda yang pakar bendungan.  Belom pernah gue denger ada bagian dari bendungan yang mereka bikin jadi kuat lantaran darah ikan, tulang ikan, ato mata ikan.

Trus, ide gila dari mana yang menyiratkan ikan jadi bahan bangunan ?  hehehe,...sabar coy, mungkin gw bisa njelasin secara sederhana.
 
Ikan emang susah direkomendasikan jadi bahan bangunan oleh negara paling hebat sekalipun, ato pakar bangunan di bumi manapun.  Tapi dari perspectif lain, ikan justru udah terbukti koq jadi bahan pembangunan sebuah bangsa.  Jepang contohnya.  Sejak kecil anak-anak Jepang udah dicekokin semua hal yang berkaitan dengan ikan, hingga mereka tumbuh jadi generasi kuat and cerdas. 

Beberapa puluh taon lalu geliat perokonomian Jepang juga bergerak positif karena bisnisnya di dunia perikanan merambah ke pelosok-pelosok dunia yang punya kantong-kantong ikan melimpah.  Tekhnologi-tekhnologi baru selalu mereka ciptakan untuk mendukung kemajuan dunia perikanan.

Universitas-universitas mereka selalu menarik untuk di jadikan tempat menimba ilmu calon-calon pemikir Bangsa lain guna membangun dunia perikanan di negaranya masing-masing.  Tapi di situlah kecerdasan Jepang.  Karena lewat mahasiswa mancanegara yg belajar di Universitasnya, Jepang memperoleh informasi berharga tentang situasi dan kondisi dunia perikanan di negara para mahasiswanya.  Lalu berdasarkan informasi tersebut, mereka melibatkan pemerintahnya untuk memfasilitasi kunjungan ke negara-negara pemberi info tadi.  Dan setelah itu, akhirnya kita semua tahu eksistensi Jepang di dunia perikanan seluruh dunia.

Bayangkan, waktu Indonesia lagi  sumringah sama penemuan baru yg disebut rumpon, Jepang udah menandai ribuan ekor ikan yang beruaya di seluruh samudera dengan menanamkan perangkat yang disebut tag, hingga mereka bisa tahu di perairan mana ikan jenis tertentu memijah dan mencapai ukuran terbaik untuk konsumsi.

Ketika nelayan-nelayan Indonesia tidak melaut lantaran bulan terang, Jepang malah asyik-asyiknya nangkep ikan di bawah bulan terang karena penemuan lampu bawah air warna-warni yang menarik ikan karena sifat ikan pelagis yang menyukai cahaya.

Satu hal yg bikin Jepang hebat adalah menyantap hidangan ikan adalah sebuah gaya hidup (lifestyle). 

Hampir mirip jepang, Thailand-pun tergolong sukses membangun negaranya dengan memperkuat sektor perikanan.  Liat aja industri pengalengannya yang sudah mmemenuhi supermarket-supermarket hampir di seluruh jagad dengan produk-produknya.



Bagaimana dengan Bangsa kita ?  Walaupun nilai eksport Hasil Perikanan yg mendatangkan devisa cenderung naik dari taon ke taon (data DKP pusat, eksport th 2010 mencapai 2,89 Milyar Dollar, dan th 2011 di targetkan 3,2 Milyar Dollar), ironisnya data dinas perikanan dan kelautan pusat menunjukan rendahnya konsumsi ikan masyarakat kita.  Ke-empat sesudah Malaysia, Singapura and Thailand.  Bayangkan, konsumsi ikan bangsa kita baru mencapai 31,4 kg/kap/th.  Artinya, angka rata-rata nasional, setiap orang Indonesia cuma 2,61 kg per orang/bulan, atau 8 gram/hari.  Hehehe,...itu kan setara dengan setetes air.  

Yah semoga aja kita bisa mengkampanyekan : GERAKAN MAKAN IKAN NASIONAL.  Supaya kita bisa memperkuat bangsa kita, dan menjadikan ikan sebagai ‘bahan bangunan.’  Tul ngga...?

AYO, KITA RAJIN MAKAN IKAN......!!!  KARENA IKAN ADALAH “BAHAN BANGUNAN”

Sunday, November 11, 2012

SEJAUH IKAN SALMON BERENANG, AKHIRNYA BALIK KE SUNGAI


Ternyata bukan cuma burung Bangau aja yang ‘terbang ke kandang setahun sekali.”  Tapi ikan Salmon juga.

======================================
Secara kebetulan, gw sempet denger 2 ikan Salmon ngobrol di Samudera Luas.

Salmon 01:  eh, kenapa sich kita musti balik lagi ke sungai cuman buat nelor doang.  Ini kan jauh banget.  3000 mil sist’... Kita kan bisa nelor deket-deket sini.

Salmon 02.  Udah kodrat kita.

Salmon 01.  Termasuk mati abis nelor ?

Salmon 02.  Ya iyalah, masa ya iya dong...

Salmon 01. Loe ngga pernah mikir untuk mutusin semua kegilaan ini ?

Salmon 02.  Maksud loe ?

Salmon 01.  Maksud gue mutusin kodrat yang mengharuskan kita balik lagi ke sungai tempat kita menetas, dan meletakin telor yg kita bawa ini, untuk kemudian mati karena keabisan energi.  Loe ngga kepengen ngeliat luasnya samudera ini lebih lama lagi ?

Salmon 02.  Pernah sich

Salmon 01.  So, tunggu apa lagi.  Sekarang saatnya.  Kita taro aja telor-telor ini di sini, terus kita istirahat dikit, baru ngelanjutin pengembaraan.

Salmon 02.  Biar deh  gue milih nerusin tradisi nenek moyang kita.  Kalo loe mau pergi, silahkan loe pergi aja.

Salmon 01.  Gimana sich loe, plin-plan amat.  Katanya kepengen mengembara lebih jauh.

Salmon 02.  Ini bukan soal plin ato plan sist’ tapi soal pengorbanan.  Coba bayangin kalo nenek moyang kita ngelakonin apa yang loe pikirin, udah pasti kita ngga pernah ada.  Kita udah lama punah.


  ======================================

Ikan Salmon memang salah satu mahluk air yang unik.  Dan sampe detik ini gue belom pernah tau kalo ada ikan Salmon yang teridentifikasi ‘memutuskan’ kodratnya.

Lewat perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kita bisa melihat begitu banyak keajaiban alam dan mahluk-mahluk hidup lainnya. 

Sebagai salah satu mahluk Tuhan, bisa dibilang kita adalah keajaiban.  Kita adalah Mahakarya paling fenomenal yang tiada taranya di banding mahluk-mahluk ciptaan lainnya.  Ya, karena kitalah Sang pencipta menghadirkan alam semesta beserta isinya.  Karena bukan demi ayam-lah manusia diciptakan, melainkan demi manusialah ayam harus hadir di muka bumi.  Bukan demi samudera yang luaslah manusia itu ada, tapi demi kitalah samudera itu diciptakan.

Kita dianugerahkan kekuasaan oleh Yang Maha Kuasa untuk memutuskan, bahkan merubah kodrat dan takdir.  Kita juga di beri kuasa untuk melenyapkan, atau memperbanyak sumber-sumber alam, serta mahluk hidup lainnya.

Persoalannya, justru kita jugalah satu-satunya mahluk yang punya hasrat paling liar untuk menguasai seluruh sumber alam.

Dengan bertameng etika dan moral, kita justru mempraktekan prinsip hukum rimba: “Yang terkuat yang bertahan”

Kalo ikan salmon rela berkorban demi kelangsungan hidup generasi mendatang, kita justru mengorbankan generasi mendatang demi kelangsungan hidup kita.

Masa sich kita lebih ‘rendah’ ketimbang ikan Salmon.....?  Cius....?

Friday, October 19, 2012

MR. FLINSTONE AND MR. JOKO WIDODO


Sebenarnya gue udah melanggar aturan yang gue bikin sendiri dalam hal pemilihan tema tulisan-tulisan gue, yakni content yg bernuansa politik.  Bukan,...bukan gue anti, ato alergi sama ‘hura-hura sakit’ yang namanya politik, cuman lantaran penelusuran otak gue masih terlalu dangkal mendeskripsikan ‘wilayah’ politik itu sendiri.  Sel-sel kelabu di kepala gue masih belom bisa mbedain mana yang masuk kategori politik dan bukan politik.  Dan kondisi ketidaktahuan itu sering diperparah oleh statement-statement sbb:
“Ah, itu mah strategi politiknya si kecoa untuk...bla...bla...”

“Si buaya sudah menunjukan sikap politiknya “

“Konspirasi politik partai bunglon dan partai curut akhirnya mengemuka ke permukaan”

Ah,...sebodo.  bingung gue ama poltak,..eh,..maksudnya politik.


Tapi hasrat liar gue untuk nulis sosok lugu bernama Jokowi, mau ngga mau harus nyeret gue ke wilayah politik juga.  Yah sudahlah.


Btw, koq padanannya Mr. Flinstone ? He...he....he....kan setidaknya model rambut mereka sama.  Belah pinggir.


Oh ya, ada satu hal lagi pakem yang gue langgar dalam hobi tulis menulis ini, yaitu membeo pemberitaan yang lagi marak.  Jokowi, itu.  Fenomena wong ndeso nan lugu yang coming from Solo, yang baru aja menang pilgub Jakarta.
Tapi emang bener koq, Jokowi itu bener-bener sosok asing dalam gemerlapnya lampu pesta dansa.  Mahluk tanpa rupa pejabat dengan senyum kampungan yang merusak tatanan masyarakat modern.  Bayangin, ketika orang lain susah payah kredit mobil baru nan mentereng supaya status sosialnya meningkat selevel atau 2 level, eh doski tanpa perasaan berdosa malah ngantor naek sepeda ontel.  Oh Gusti, Joko...Joko, loe bener-bener nampar ‘prestise’ ribuan anak buah loe yang pengen gaya sama kekayaannya.  Sampeyan itu Walikota loh Jok.  Virus apa sich yang ngendap di otak sampeyan, koq bisa-bisanya menganut aliran kampungisme yang kental banget?
Ketika pejabat lain berusaha ngabisin uang negara sambil korupsi, eh loe malah nolak ngambil gaji.  Loe ngga ngerti kali ya apa artinya fulus, money, hepeng...?
Gue sempet mikir, jangan-jangan si Joko Widodo ini njadiin Mr. Flinstone sebagai tokoh idolanya.  Itu tuh, si tampang cemen bermobil batu.  Mobil yang mesinnya pake kaki sendiri, trus telephonnya dari batu, dan semuanya serba batu.
Kemenangan Jokowi adalah kemenangan psikologis.  Lantaran banyak orang Jakarta capek sama unjuk kekuatan materi.  Sesuatu yang tanpa disadari mengikis sisi-sisi kemuliaan manusia.  Membuat manusia hidup dengan ideologi ‘uang adalah pusat segala sesuatu’
Aura kesederhanaan mas Joko berhasil memanggil kembali kesadaran manusia akan indahnya kesederhanaan.  Berpikir sederhana, dan hidup dalam kesederhanaan.  Bahwa kita akan tetap mendapatkan udara dan sinar mentari secara gratis, tanpa harus ke Bahama, Caribia, atau Hawaii.  Bahwa sesungguhnya kita bener-bener ngga butuh rumah tiga tingkat seukuran setengah lapangan bola.  Kita ngga butuh 3 biji mobil bermerk.  Kita juga ngga butuh jam tangan bersepuh emas dengan harga 50 jutaan.  Kita ngga butuh Blackbery, Tablet, ratusan biji sepatu, tas, atau T-shirt seharga jutaan hingga puluhan juta kalo cuma pengen dapet respek dan penghargaan dari orang lain.  Jokowi berhasil membuktikannya.  Ia mengajarkan, bahwa kita mendapat respek dan penghargaan orang lain, bukan karena kebendaan yang dimiliki, namun karena karakter pribadi kita.  Ketulusan, kerendahan hati, dan kerelaan untuk berbagi.  Sesuatu yang tak pernah usang dimakan waktu.
Ya, kita terlalu sering disihir oleh gemerlapnya harta dunia, hingga membutakan hati kita akan sesuatu yang bernilai kekal: Kasih Sayang.
Gue ogah jadi Mr. Flinstone yang capek sendiri sama mobil batunya.  Gue juga ngga bakalan jadi kayaq mas Joko (hehehe,..emang gampang jadi Gubernur..?)  Tapi gue akan tetap jadi diri gue sendiri.  Yang dicintai istri dan anak-anak gue, disayang ortu and  kakak/ade, dan disapa mahluk-mahluk yang namanya teman.

Mas Jokowi, cukup jadi salah satu sosok yang menginspirasi.  Ngga lebih.

(buat temen2 gue: Linda Rismanto, Zsedo, Tato, Deni Kirimang, Oy)

Monday, September 10, 2012

RUJAK IKAN SARDIN


Kaget….? Hahaha….biasa aja lagee…

Tapi bener koq.  Cause kita-kita yang tinggal di Bitung, Sulawesi Utara bukan barang baru makan ikan Sardin yang di bikin rujak. 

Sebenernya sich namanya bukan rujak, cuman demi kepentingan publisitas  aja, hehehe.   Karena  istilah yang familiar di kalangan ‘komunitas pantai’ adalah Gohu.

Tapi sebelum gw tulis cara mbikinnya, gw pengen ngasih tau dikit apa faedahnya sich makan rujak Sardin…?

Ini ada kaitannya sama protein.   Jadi gini, kandungan proten yg ada pada daging hewan, ato ikan biasanya akan mengalami perubahan (ilmiahnya denaturasi), atau kehilangan sifat-sifat aslinya ketika mendapat perlakuan pemasakan, atau pengolahan.  Tapi jangan salah ya,  bukan fungsi protinnya.  Tapi sifatnya.  Udah, gitu dulu.  Ngga asyik terlalu banyak ilmiahnya.

Tau sashimi kan…? Banyak orang percaya sashimi berkhasiat meningkatkan libido.  Sebenarnya kurang tepat.  Karena yang bener adalah, kandungan protein yang terdapat pada sashimi yang masih ‘utuh’ karena mentah, tertelan sempurna ke dalam tubuh, dan berdampak pada tingkat kebugaran tubuh.  Nah, lantaran tubuh sehat bugar, jadi yah gitu deh, napsu birahi juga terpicu.

Dan kondisi yang sama juga berlaku untuk rujak ikan Sardin.  Malahan, Para ahli bilang, dalam kandungan daging Sardin memiliki lebih banyak EPA dan DHA yg berkontribusi pada tingkat kecerdasan.

Ok, gak usah panjang-panjang kayaq uler tangga. 

Bahan baku:  ikan Sardin yang super segar, ukuran dari pangkal ekor hingga kepala minimal 14 cm.   sebaiknya lupakan bikin rujak kalo ikan sardinnya udah lembek, mata banyak merah, apalagi bau kurang enak.  Pokoknya harus yang super segar.  Lebih bagus yang baru mati. (ssttt, ikan yg ada di gambar tuh udah ngga terlalu seger. Sory, soalnya susah nyari gambar yg super seger)

Sebelum digunakan, sebaiknya ikan sardine di simpan dalam hancuran es

Bumbu: cabe, bawang merah, jeruk nipis, garam dan jahe secukupnya.  Sesuaikan dengan jumlah ikan.

Cara bikin:

tumbuk/blender/haluskan semua bumbu kecuali jeruk nipis.

Keluarkan kepala sardin, tulang dan isi perut, hingga yang tersisa cuma dagingnya, lalu iris daging Sardin tersebut sepanjang  1-2 cm, atau sesuai selera.  Cuci dengan air masak, tiriskan air yang tersisa, lalu campur dengan bumbu yang telah di haluskan.  Setelah tercampur, peras air jeruk nipis.  Selesailah rujak ikan Sardin, dan siap di santap.

Sob, lebih asyik kalo di makannya sama singkong rebus yang masih ngepul….uhhhh, gue sampe ngiler nich.

Friday, September 7, 2012

SANG PENULIS


Banyak pendapat yang bilang bahwa sebuah tulisan yang amazing adalah tulisan dimana penulisnya terlibat langsung pada sebuah moment, atau kejadian.  Bisa ya, tapi bisa juga ngga.  Kenapa…? Karena fakta membuktikan kalo ada begitu banyak tulisan yang penulisnya ngga pernah terlibat, atau hadir secara fisik, tapi mampu membuat pembacanya ngerasain kalo si-penulis exist di sana.

Koq bisa…? Banyak membaca.  Di situ kuncinya.  Benang merahnya.  Karena dari beberapa buku yang pernah gue baca, penulis produktif dan berkualitas, ternyata juga seorang kutu buku kronis yang njadiin membaca  sebagai ritual penting lainnya selain makan, minum dan berak (masa Cuma makan ama minum, tapi ngga berak…hehehe)

Membaca adalah salah satu sumber inspirasi yang kelak bakalan di ramu dengan adonan yang namanya imaginasi dan inovasi.  Hingga itulah sebabnya seorang penulis bisa menceritakan dengan begitu detailnya suasana di Praha, Paris, Canberra, atau Jombang, tanpa pernah ada di tempat tersebut.  Apalagi jaman internet sekarang.  Tinggal klik nama sebuah daerah, copy, tambahin inovasi bumbu dapur.

Tapi emang ada benernya kalo latar belakang penulis juga bisa jadi salah satu roh yang memperkuat tulisannya.  Misalnya John Grisham, mantan praktisi hukum yang kemudian berhenti dari carut marut dunia hukum, lalu alih profesi jadi penulis novel.  ‘Pelican Brief’ adalah salah satu novelnya yang menghebohkan, sampe di cetak berulang-ulang.

Di Indonesia kita juga punya.  Marga T (eh,..sekedar pemberitahuan, T-nya bukan Ticoalu koq…hehehe), seorang dokter aktif yang di sela waktu luangnya udah menghasilkan rentetan novel apik, dimana contentnya kerap bernuansa dunia rumah sakit.   And bukan lantaran Marga-nya T, lantas gw njadiin doski sebagai salah satu penulis fave gw,  tapi emang kisah-kisahnya yg menginspirasi.

Setelah gw pikir-pikir (sebelomnya gw ngga mikir, lantaran emang ngga punya pikiran..hehehe), ternyata profesi apa aja (asal bukan psk, gigolo ato Bandar narkoba loh,…) kalo ditekunin serius and konsisten bukan cuma bisa bikin hati puas and happy, malah bisa turut serta merubah wajah sebuah Negara,  bahkan peradaban.  Ngga percaya…?  Sekarang ada banyak Negara yang parlemen, serta pejabat-pejabat terasnya di wajibkan membaca dan menelaah buku-buku tertentu hasil pemikiran Para penulis hebat.  Salah satu contohnya adalah buku ‘7 habits’ karya Alm. Stephen Covey  (Hehehe….gw juga punya loh).  Kalo di Negara kita, apa ya bacaan wajib Para pejabat tinggi sama anggota dewannya….?  Moga-moga aja bukan ‘Kamasutra’, ‘Doraemon’ sama ‘Tehnik Menembus Tembok Tebal’ ala David Cooperfield….hehehe…

Sebenarnya gw pengen banget menelurkan sebuah buku.  Tapi apa ada ya penerbit iseng yang mau…?  (Wkwkwk…..itu salah satu trik penulis loh. Krn biar cakep-cakep gini, kan tulisan gw juga udah banyak….hahahaha….ngarep)

Eh udah dulu ya, ada telephon masuk nih.

“Halo, ya..saya sendiri.  What…..?  Komik porno….? Loe kira gw laki-laki apaan…?  Apa,…loe bakal jual ke universitas di seluruh Indonesia..?  Mmmmhhh,…ntar gw pikir dulu.  Ntar gw hubungin loe deh. 

Saturday, September 1, 2012

WAKTU LOE BOSEN PADA 4W + 1 H


Tanpa mbuka kamus bahasa Indonesia, gimana cara loe njelasin arti ‘bosan’ ke anak SMP kelas 1, ato SD kelas 6…?

Ijinin gue (biar loe ngga ngijinin, tetep gue tulis koq,..hahaeee) ngemukain perspective gue tentang bosen: “Apa aja yang udah ngga terlalu suka kamu lakukan karena sudah berulang-ulang”

Misalnya loe udah ngga terlalu doyan sama tempe, karena udah berulang-ulang loe makan.  

Bosen adalah sebuah rasa yang  sangat normal dialamin semua mahluk yang punya indera pengelihatan, penciuman, pendengaran, pengecap (rasa), dan peraba.

Hampir mustahil kalo loe bilang bosen liat birunya laut kalo loe buta, ato bosen ndenger petikan gitar klasik, kalo loe sendiri budek.

Walau bosen sifatnya sementara, tapi kita ngga bisa menghindar dari rasa tersebut.  Dan rasa tersebut ngga bisa dibatasin oleh apapun.  Karena kita bisa bosen oleh 4W + H ( who, what, when, where and how)

Who : loe pasti pernah ngerasain bosen sama siapa aja.  Temen, guru, dosen, bos, rekan kerja, bahkan sama pasangan hidup loe.

What : loe juga bisa bosen sama apa aja.  Entah makanan/minuman, baju, kendaraan, hobi, rumah.

When & Where: rasa bosen juga ngga kenal waktu dan tempat.  Bisa melanda kapan aja dan di mana aja.  Di pulau terpencil, ato hiruk pikuknya Paris.

How : rasa bosen yang juga melanda tentang bagaimana cara loe melakukan sebuah ritual ato kebiasaan, ato sebuah system

Sebagai salah satu staf produksi, gue dikasih kepercayaan atasan  untuk melanjutkan kebijakan perusahaan menyangkut pekerjaan yang harus di lakukan sehari-harinya.  Biasanya 30 menit sebelum semua pekerjaan mengalir.  Dan di kesempatan tersebut gue kerap menyelipkan statement motivator-motivator sukses seperti Andre Wongso,  Merry Riana, Steven Covey, Mario Teguh, dll.

Pada bulan-bulan pertama, gue liat semua supervisor/asisten tampak begitu antusias.  Tapi di suatu kesempatan, tanpa menyadari kehadiran gue,  salah satu dari mereka ada yang nyeletuk:

“Bosen gue sama petuah Robin.  Filsafat melulu”

Hehehe,..pertama denger sih kesel juga, tapi gue coba nempatin posisi gue di posisinya, hingga dengan legowo gue musti menyadari hal tersebut sebagai sebuah kewajaran.  

Setelah gue pikir, mungkin ngga berlebihan kalo gue bilang bahwa sifat dari kebosanan hampir sama dengan rasa lapar.  Sesuatu yang ngga bisa kita tolak manakala datang.

Mengendalikan Kebosanan

Loe  ngga bisa maksain diri untuk bilang ngga bosen kalo hati loe bilang yg sebaliknya.  Tapi kabar baiknya, kita dikasih Karunia oleh Sang pencipta untuk mengendalikan rasa bosen tersebut.  Gimana ?

Buat gue, rasa bosen bukanlah hukuman, ato kutukan.  Justru sebaliknya.  Karena rasa bosen kerapkali  nuntun otak kita melakukan inovasi dan kratifitas.  Misalnya, lantaran bosen sama tempe goreng, kita mbikin semur tempe, ato tempe santen.

Ketika bosen naek perahu yang merayap di permukaan aer, orang bikin kapal selam yang wara-wiri di kedalaman.  Kita nyebutnya kapal selam.

Ketika loe bosen sama pekerjaan yang loe udah lakonin 15 ato 25 taon, loe bisa minta pindah departemen, ato ngambil cuti.  Ato, kalo emang bosen loe udah kronis, ya resign aja.  Mundur permanen.  (Itu bukan lagi bosen, tapi udah muak.  Hehehe…)

Ketika loe bosen sama temen, ya terima aja.  Kurangin frekuensi pertemuan dan komunikasi.  Toh hubungan tetap terjalin dengan prinsip ‘jauh di mata dekat di hati’ (Lagi pula, pertemuan yang jarang kan kerap menumbuhkan kerinduan)

Waktu loe bosen sama Innova loe, sewa Grandmax aja di rental sekitar 2 minggu.  Ditanggung loe bakal rindu lagi sama Innova loe.

Waktu loe bosen sama facebook, loe bisa beli drawingbook. Hehehaee..

Ketika loe bosen sama pasangan hidup loe, loe bisa kawin lagi….wkwkwkwk…ngaco aja.  Hahaeeee.  Itu mah alasan doang untuk membenarkan sifat serakah dan napsu birahi loe.  Sah-sah aja loe juga ngerasa bosen sama pasangan hidup loe, tapi pasti ada cara koq untuk ngatasin perasaan sementara tersebut.  Entah bulan madu ke tempat pertama kali loe ketemu, ato pertama kali loe berciuman.  Kalo masih belom mempan, bilang aja pengen mendaki gunung ama temen-temen sekitar 2-3 hari.  Tapi jangan frontal ngomong terang-terangan bosen.  Jujur bukan brarti harus oon kan…

Kita pasti menemukan cara untuk mengatasi kebosanan.  Tapi ingat, rasa bosan ngga pernah permanen, tapi cuma temporary, alias sementara.  Karena kalo udah permanen, loe udah bukan bosen lagi.  Tapi udah ngga suka.  Itu persoalan yang berbeda.  Jangan loe campur adukin.  Karena secara prinsip, bosen beda sama ngga suka, ato sebel.

Waktu loe bosen sama tempe goreng, tapi rasa tersebut kontan raib waktu  disodorin  semur tempe.  Tapi, kalo bawaan loe pengen muntah tiap ngeliat tempe, tapi loe udah muak.  Sukur-sukur kalo belom masuk kategori najis.

Sekarang loe bosen sama apaan…?  Apaaa…..bosen sama gue..? Oh my god dragon (artinya  astaganaga…)Mendingin cepet-cepet deh loe nyari permen karet, ato minyak angin.  Ntar loe keburu muntah….wkwkwkwk….