Tuesday, February 7, 2012

BRUCE WILLIS, ANJASMARA, GUE DAN WANITA


Hehehe,..kalo mau senyum  lantaran mbaca judulnya,  ya senyum aja, gak usah malu.  Emang sich, pembandingnya kejauhan.  Tapi baca dulu dech,…

Sebenarnya sich ada beberapa  pria mapan yang karakternya gue kagumin.  Tapi kalo pilihan gue kali ini jatuh ke Bruce Willis sama Anjasmara, cuma lantaran sosok mereka yang mondar-mandir di benak gue, seolah minta gue ditulis.

Bruce Willis

Orang yang ngaku doyan nonton film action, pasti kenal sama pemeran John McClane di ‘Die Hard’ 1-4.  Sosok polisi Bengal yang memegang teguh prinsip pelindung masyarakat, tanpa neko-neko.

Jujur  aja, gue terobesesi banget sama karakternya yang urakan, tapi smart.  Menghormati kebaikan hati orang tanpa pandang bulu dan kepangkatan.  Malah, temen karibnya  saat memberantas kejahatan, ‘Cuma’ polisi negro  berpangkat rendah  yang doyan makan donat, serta sopir ceking yang juga negro.  Karena faktanya, para orang huibat dan terhormat justru digambarkan lebih sering nyebelin dan  mempersulit karena sikap pandang entengnya (walau ngga semua begitu di kehidupan nyata)

Tapi yang paling asyik dan menginspirasi adalah cara John mencintai Molly, istrinya.  Sayangnya, Molly sulit menerima cara John mencintainya.

Mungkin,…(skali lagi mungkin), John McClane termasuk tipe pria (kayaq gue, hehehe…) yang alergi sama suasana temaram romantis yang cuma disinarin 2 batang lilin, plus mawar merah di atas meja dan alunan music syahdu, sambil saling melotot dan remas-remasan jari (iiihh,…ogah banget).  Mungkin juga si-John termasuk golongan pria yang males basa-basi buat muji warna lipstick, kutex dan panjang bulu mata istrinya.
Tapi John McClane ikhlas semua badanya dipotong-potong penjahat demi ngelindungin wanita yang dicintainya.

Sayangnya, di kehidupan nyata nasib si-John mirip kisahnya di film.  Doski ditinggalin si-cantik Demi Moore yang lebih tertarik sama ketampanan dan manjanya Ashton Kutcher yang emang lebih muda dan sekuat kuda Australi (Tapi kacian Demi Moore,..akhirnya pisah juga ama Ashton)








Anjasmara

Mungkin susah nyari perempuan yang ngga terpesona sama laki-laki ini.  Udah kaya, guanteng, bodynya proporsional, and terkesan gak banyak ngomong, alias cool.  Bini gue aja pasti nyempet-nyempetin nengok kalo ada pemberitaan soal Anjas. Uh, bener-bener bikin iri banyak perempuan tuh si-Dian Nitami.

Gak cukup sampe situ.  Ternyata, walau di kerumunin wanita cantik and sexi yang siap nerkam kalo-kalo aja Dian udah bosan, tetep gak bikin Anjas pindah ke lain hati.  Sekali Dian tetap Dian.  Karena di banyak media cetak, Anjas gak pernah berenti muji istrinya semata wayang. Luar biasa. Salah satu pria langka.

Trus, apa korelasinya antara Bruce Willis, Anjas ama gue…? Hehehe,..mungkin gak ada.  Loh koq..?

Tapi gini, dari banyaknya perbedaan antara kita bertiga (ceilee,..segitunya), setidaknya ada 3 hal yang gue yakin banget kalo kita punya persamaan. Pertama, kita sama-sama laki-laki (wkwkwk...)  Kedua, kita sama-sama menikahi wanita.  Ketiga, tujuan akhir yang kita ber-tiga harapkan dari semua proses perjalanan hidup pasti KEBAHAGIAAN.

Nah, untuk persamaan pertama dan kedua, itu mah cuma guyonan gue (hehehe..lagi). Tapi kalo soal kebahagiaan, gue yakin Bruce Willis sama Anjas pasti pengen bahagia.

Gue gak  ngaku-ngaku kalo gue lebih bahagia dari Bruce ato Anjas, cuma lantaran gue ngga sekaya mereka.  Bohong  gue kalo gak kepengen sekaya mereka.  Krn, sapa tau kualitas kebahagiaan bisa meningkat kalo punya kekayaan seperti mereka.

What ever,...gue bersyukur karena termasuk 1 dari banyak laki-laki di dunia yang bahagia. Bahagia dengan semua yang gue miliki, dan belum gue miliki.

Dunia kaum pria kerap digambarkan sebagai dunia yang kompleks dan penuh warna.  Malah cenderung egois.  Gimana engga, kalo pria selingkuh, dan ‘main’ perempuan di mana-mana, dunia masih bisa tertawa. Tapi sekali wanita berbuat ‘dosa’ dunia akan menangis.  Pokoknya wanita gak boleh macem-macem.  Laki boleh.

Lepas dari pandangan kalo dunia udah berubah, nyatanya ‘pemisahan’ gender tetap aja berlangsung.  Gak perduli sebuah Negara udah secanggih Amerika, ato seterbelakang Mosambique.  Faktanya, kaum pria masih ‘menempati’ posisi ‘dewa’ di galaksi bima sakti ini.

Mungkin,……kaum pria emang slalu akan begitu.  Berkuasa dan ‘sok perkasa’ karena pengaruh proses penciptaan. Maksudnya,….? Ya itu,….karena wanita tercipta dari tulang rusuk pria.

Padahal,...mene tehen laki-laki kalo gak ada perempuan…?? Namanya juga tulang rusuknya...hehehe...

Sunday, January 29, 2012

SURAT TERAKHIR DARI AYAH……. (KEPADA 3 HANTU)


Anak-anakku tercinta.  Ayah tidak tahu apa arti surat ini bagi kalian, tapi dari balik jeruji besi ini, ayah ingin memberikan sesuatu.  Anggaplah sebagai kenang-kenangan terakhir dari seorang pria yang pernah kalian sebut dengan ayah.

Ayah tidak pernah tahu di mana kalian berada, atau telah jadi apa kalian saat ini.  Tapi untuk yang terakhir kalinya ayah memohon kepada Tuhan, kiranya tulisan ini sampai ke tangan kalian.

Ayah sadar kalau ayah tidak pantas menerima maaf dari siapapun atas apa yang telah ayah lakukan.  Termasuk dari kalian.  Tapi di sisa hidup ayah, menjelang hukuman mati ini di laksanakan, ayah telah bersujud dengan kesungguhan hati, memohon pengampunan dari Tuhan.  Dan anehnya, hati ayah merasa sungguh terbebas.  Bahkan dalam penjara isolasi yang terasing ini.  Terkurung dalam kegelapan dan kesendirian.

Ayah sungguh merasa terbebas dan damai, dibanding saat berkeliaran sebagai buronan paling di cari polisi internasional.

Anak-anaku, ayah telah sangat lama kehilangan kebanggaan sebagai pria berpredikat ayah.  Tapi sungguh, ayah pernah memiliki kebanggan itu.  Kebanggaan saat ayah dengan gaji yang masih sedikit- tapi halal-bisa membelikan kalian mainan dan makanan, hingga kalian tertidur pulas karena kenyang dan kelelahan.  Tahukah kalian, ayah masih menyimpan kenangan indah itu.  Kenangan saat ayah melihat kalian dan mama kalian tertidur pulas bagai malaikat.

Ayah juga tidak lupa saat ayah memukul si-sulung dengan ikat pinggang hingga memar.  Bukan,..bukan karena ayah benci, tapi justru karena cinta ayah.  Karena ayah takut terjadi apa-apa dengan  si-sulung yang bermain di sungai yang dalam dan deras, sedangkan ayah tahu persis kalau si-sulung tidak bisa berenang sama sekali.

Ayah juga pernah memukuli si-tengah dengan kayu hingga ia menjerit-jerit ketakutan karena kaki kirinya bengkak.  Itupun bukan karena ayah benci.  Justru karena ayah kuatir si-tengah celaka karena bermain dengan orang dewasa yang mencari ikan dengan aliran listrik bertegangan tinggi.

Begitu juga dengan si-bungsu yang ayah cubit hingga pahanya biru lebam.  Juga bukan karena benci. Tapi ayah tidak ingin si-bungsu celaka karena bermain korek api dan satu jerigen penuh bensin di tumpukan kayu kering secara sembunyi-sembunyi.

Tanpa pernah kalian tahu, ayah selalu menaikan permohonan aneh kepada Tuhan saat kalian sakit.  Ayah memohon kiranya semua penyakit kalian di pindahkan ke tubuh ayah.  Biarlah ayah yang sakit, jangan kalian.  Karena ayah tak sanggup melihat kalian menderita.

Anak-anaku, secara spiritual ayah memang sudah dibebaskan.  Ayah sudah bertobat.  Tapi ayah tak mungkin menghindar dari penghukuman, karena semua kejahatan yang telah ayah lakukan.  Ayah sadar sepenuhnya kalau ayah tak mungkin menghapuskan begitu saja semua kepedihan, rasa duka, kesakitan dan penderitaan yang banyak orang alami karena kejahatan ayah.

Sejujurnya, ayah ingin menemui semua pihak yang telah menderita karena ayah, dan rela menerima perlakuan apapun yang akan mereka lakukan, tapi ayah tahu itu tidak mungkin, karena ayah telah berada dalam hukuman Negara.

Saat ini ayah baru sungguh memahami makna kata-kata: “Apa yang kau tabur akan kau tuai”

Anak-anaku, di usia ke-75 ini ayah telah melewati berbagai pahit getir, onak dan duri kehidupan .  Ayah paham betul arti jahat, sama pahamnya dengan makna kebaikan.  Tapi sayangnya, ayah tak dapat menebus semua kejahatan ayah, dan menggantinya dengan kebaikan.  Ayah sudah terlambat. 

Dan untuk alasan inilah ayah mencoba meninggalkan sesuatu yang ayah harap ada faedahnya buat kalian, anak-anak ayah,  dalam menapaki kehidupan.

Anak-anakku, dalam perjalanan hidup ini, ayah telah berjumpa dan bergul dengan begitu banyak orang, dengan beragam karakter.  Banyak yang baik, tapi tidak sdikit yang jahat (seperti ayah).  Banyak pembohong, tapi juga banyak yang jujur.  Ada yang tulus, tapi gak sedikit yang bermuka dua.  Ada yang sombong, tapi banyak yang rendah hati.

Banyak orang yang doyan mengumbar janji tapi gak pernah menepati, tapi gak sedikit yang suka bikin kejutan, tanpa janji-janji.  Banyak orang suka mengeluh, tapi tetap melaksanakan apa yang dikeluhkannya dengan baik, tapi ngga sedikit yang ngga pernah kedengaran keluhannya, tapi ngga pernah menyelesaikan tanggung jawabnya.  Banyak orang pintar sekali bicara, tapi cuma tong kosong berbunyi nyaring, tapi ngga sedikit yang ‘bodoh’ bicara dan selalu berbuat.

Dan berkaitan dengan karakter unik yang beragam itu, ada point penting yang perlu kalian tanamkan dalam hati:

“Berpikir positiflah pada semua orang,  tapi lihatlah buahnya.  Lihat apa yang diperbuatnya. Bukan apa yang dikatakannya…”

Kalian akan menemui banyak wajah polos tanpa dosa yang ternyata pembunuh keji, penghianat, penipu ulung, atau musuh dalam selimut.  Sebaliknya, tidak sedikit  seorang bertampang  garang yang berhati malaikat.  Karena dari buahnya-lah kalian akan tahu.

Ayah yakin kalau kalian tahu bahwa hidup ini adalah pilihan.  Ingatlah pesan ayah: “Berjalanlah selalu dalam kebenaran.  Pilihlah selalu yang benar..”

Karena pada prinsipnya, tidak semua yang baik itu benar.  Tapi yang benar pasti baik.

Dunia akan selalu berubah, tapi Kasih dan Kebenaran akan tinggal tetap.  Tak lekang di makan waktu.

Anak-anakku tercinta, tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi ayah selain menerima kenyataan kalau ayah telah mentelentarkan hidup kalian.  Membiarkan kalian  hidup tanpa arahan pada kebenaran yang diberkati. Tapi ayah berdoa dan berharap kalian baik-baik saja, hingga membaca surat terakhir ayah ini.

Anak-anaku, surat ini ayah tulis 3 hari menjelang hukuman tembak.  Tapi ayah sudah bicara dengan sipir penjara, untuk menyampaikan surat ini kepada kalian, bagaimanapun caranya.

Dari ayah yang sangat mencintai kalian

Selesai

###########################################################

Tanpa pernah disadari sang ayah, di tempat yang sama, di penjara isolasi tempatnya menulis surat terakhir, 3 sosok hantu baru selesai membaca surat tersebut.  Ke-3 hantu tersebut hanya bisa menitikan air mata.

Hantu pertama adalah si-sulung.  Tewas pada usia 38 tahun akibat berondongan senjata agen DEA di perbatasan Puerto Rico dan Mexico, saat kontak bersenjata ketika hendak menyelundupkan Narkotik sebanyak 12 ton dengan container yang di bungkus jerami.

Hantu kedua adalah si-tengah.  Tewas pada usia 33 tahun, akibat peluru sniper polisi Hongkong saat merampok sebuah bank, dan tengah menyandera 25 nasabah dan staff bank. 12 orang tewas dibantai si-sulung. 5 diantaranya adalah anak-anak.

Hantu ketiga adalah si-bungsu.  Tewas saat memasuki usianya yang ke-27, akibat overdosis Heroin.  Yang bersangkutan adalah buron polisi karena di duga membunuh seorang polisi, Pendeta dan tokoh Partai politik (atas bayaran saingannya sebesar Rp. 30 juta)

Anak-anak kerap lupa rangkaian kata dan nasehat orang tua,  tapi  merekam dengan baik dalam memorinya,  banyak hal yang diperbuat orang tuanya.

Apa artinya sejuta kata indah dan tulisan inspiratif tanpa TELADAN HIDUP

Apa artinya kau memiliki seluruh dunia, jika kau tak punya KASIH

Kepada semua orang tua yang mengasihi anak-anaknya. Ingatlah, kalau dunia bermula dari rumah.

Tuesday, January 24, 2012

FROM BITUNG TO KOTAMOBAGU WITH UETA


Apaan sich hoby..? Gue terjemahin ala gue aja yee.  Hoby adalah aktifitas yang ‘normal’ bagi pemilik, tapi ‘abnormal’ bagi pihak lain, yang dilakukan secara rutin, dengan/atau tanpa pertimbangan ekonomi.
Terima aja ya,..gak usah protes sama definisinya. 

Apa loncat ke jurang puluhan meter cuma dengan ngiket pergelangan kaki merupakan aktifitas normal buat orang yang ngga hobi…?

Apakah para mancingkers merupakan kumpulan orang oon’ yang bego ngitung selisih antara beli ikan di pasar sama ongkos operasi mancing yang mungkin mencapai puluhan juta…? Hehehe….harga sebiji alat pancingnya aja sampe jutaan.  Belom sewa kapal. Mo ngomong perhitungan ekonomi…?

Apa sich yang diperoleh setelah hoby terlaksana..?  Yah, emang banyak hoby yang memberi nilai tambah, tapi ngga sedikit yang mengeluarkan budget tambahan.  Tapi pastinya ada kepuasan pribadi yang buat orang lain ngga ngaruh sama sekali.

Gue misalnya, bangga banget bisa nidurin 98% puncak gunung di Sulut (kecuali Awu dan Karangetan).  Tapi kan kebanggaan gue gak punya arti apa-apa buat orang yang ngga doyan mendaki gunung.

“Cuma buang energy percuma.  Naek, terus turun lagi.” Gitu seloroh mereka

Nah berkaitan dengan hoby tadi, pada tanggal 21 – 22 january 2012, gue ama temen-temen pabrik ngelakonin hoby tualang pake motor, yang bertajuk:

“From Bitung To Kotamobagu With Ueta”

Oh ya, ini daftar temen-temen gue yang ikut serta: jangkrik, boto-boto, kakerlak, rie-rie,…upss,..sory..sory.  Salah.  Hehehe,..soalnya gue baru nonton saluran TV Manado, jadi terpengaruh di tulisan (aduh, males mau ngapus….).  Nidia nama-nama yang sebenarnya: Kazumichi Ueta, Yudri Mangkey, Tomi Paulus, Fernando Kilapong, Bobi, Dani Palilingan, Jani Poluan, Apeles Lasut, Jun Wori, Santria Posumah, Rival Waroh, Meike Janis, Nita Darome, Hamdan Mamonto, Jefri Malombeke, Novi Tulandi and gue.

Btw, kenapa judulnya “……..With a Ueta..?”

Gue jelasin dikit.  Kazumichi Ueta merupakan perwakilan owner Jepang yang ditempatkan di PT. Celebes Mina Pratama, guna bekerja sama (sekaligus mengawasi)pekerja-pekerja Indonesia-termasuk gue-dalam mengolah dan mensuplai produk ikan kayu ke Perusahaan induk di Marukhei Kathuobushi, Jepang.

Orangnya flexible, murah hati and low profile.  Tapi kalo soal kerjaan, yah, tau sendirilah style-nya Jepang.  Nguber and perfect.

Sebenarnya perusahaan tempat kita kerja aman-aman aja, hingga awal Januari 2012.  Terjadi  ketidak sepahaman antara CMP 01 dan 02, yang dalam hal ini adalah sesama pemegang saham.  Presiden Direktur dan Vice President.

Ibarat pepatah, Kingkong Vs Godzilla, yang berpotensi  jadi korban adalah para mahluk imut dan menggemaskan seperti kita-kita ini, para karyawan.

Lantaran kita harus memposisikan diri di pihak netral, ngga ke President, tapi ngga juga ke Vice-nya, ketika situasi mengarah jadi lebih hangat (sehangat pantat ayam…), maka beberapa dari kita yang tergolong beken (bekas kenek..)mutusin untuk ngelepas suntuk dengan melakukan Tour ke-3, ke Kotamobagu.  N’ lantaran Ueta juga pengen ikut, maka judul Tournya kita bikin seperti yang tertulis di atas, gitcu.



Rute

Bitung – Tenggari – Tondano – Remboken – Langowan – Ratahan – Belang – Basaan – Ratatotok – Kotabunan – Modayag – Kotamobagu – Amurang – Malalayang – Bitung.

Perkiraan jarak : 400 km

Kendaraan: 12 motor, 1 mobil dan 1 bendi (yang ini terpaksa batal karena kudanya minta gentian naek motor…hehe)

Kronologis

Kami berangkat dari Bitung tgl 21 jan 2012, pkl 14.15 Wita. Gerimis kecil cukup bikin deg-degan saat siap berangkat.  Gimana ngga, masa blom apa-apa udah harus basah.  Tapi syukur cuma syok terapi.  Gerimis berhenti waktu perjalanan masuk Sagrat. 

Waktu siap, 1 peserta terpaksa mundur karena satu dan lain hal.

Selepas Ratahan, ada insiden kecil yang melukai  kaki salah satu bikers, yakni Janni Poluan.  Doski nyungsep sama motornya setelah ban depannya masuk lubang yang cukup dalam. Sambil becanda, beberapa temen ngoceh,

“Yang bener aje om, masa lobang jalanan di sikat juga sich, udah bosen ama lobang yang biasa….?? hehehe…”

Becanda coy..!

Sampe di Ratatotok pkl 17.45 Wita.  Kami istirahat di Rumah Adat Minahasa milik adik kandung Bpk Ody Worang di Ratatotok.  Makan, ngopi, sedikit minkers, tidur.  Ada beberapa yang susah tidur lantaran pengen nyari kesempatan ngambil gambar mahluk-mahluk imut yang udah ngorok dan mengeluarkan cairan bau dari mulut hingga membentuk gugusan pulau seperti Lembe dan Pulau Kalimantan. (iler,..dodol..!!)
Malah ada salah satu anggota yang lantaran udah sedikit mabok, ngelindur sambil ngeluarin jurus-jurus kung-fu ala Wong Fei Hung.  Hiaaaat….coba ona ini tendangan tanpa bayangan reen…!! (Hehe…kiapa so bahasa Amurang…)

Tgl 22 Jan 2012, pukul 05.00 Wita kita ngelanjutin perjalanan, setelah sarapan supermi rasa Sogili Bawang (hehe..cari jo..).  Kita nembus kepekatan malam nan dingin sambil menyimpan dendam tidur yang kurang lengkap (soalnya waktu tidur, mata sebelah ketutup, sebelahnya kebuka…)

Pukul 08.15 Wita kita masuk gerbang yang bertuliskan “Selamat Datang Di Kotamobagu”

Pukul 09.30 kita ngopi and ngeteh di RM Bobara, lalu ngelanjutin perjalanan ke rumah orang tua salah satu peserta, Hamdan Mamonto.  Makan jagung rebus and nenggak coffee mix plus susu kental manis.  Sambelnya man,..extra pedas.  Kenyang, salaman, say thanx, and go to Manado.

Pukul 15.00 Wita kita tembus Kalasey.  Trus makan di RM Tegal. Ada yang sedikit konyol waktu mesen menu minuman.  Hehehe,…ada yang pesen juice nasi loh coy.  Bisa ngebayangin gak tuh gimana rasanya..? huahaha,..bilang aja pesen bubur.  Dodol….!!

Sambil nyeruput es kacang brenebon, gue muter lagunya Pasto feat Milka,

Kutatap dua bola matamu, tersirat apa yang terjadi,…
Oh sayangku, aku tak mau,..
Ku tau semua akan berakhir,…tapi kutak rela lepaskanmu….

Reff…….salahkah bila diriku, terlalu mencintaimu,..
Jangan tanyakan mengapa, akupun tak tahu,…

Selesai.

Trus,…apa hikmah dari perjalanan singkat tersebut…? Puas and cape.  Gitu doang,..pake hikmah-hikmah segala.  Emang Kultum…

Sampe ketemu di Tour selanjutnya. Gorontaloooooo,……wait for us…!!!

Tuesday, January 17, 2012

BUBU, ALAT TANGKAP IKAN TRADISIONAL


Dari sekian banyak alat tangkap ikan yang masih dipakai, mungkin bubu yang termasuk peninggalan zaman batu (pokoknya batu deh, mau batu bata, ato batu kali, terserah)

Selain sederhana, bubu juga ngga butuh tekhnologi  tingkat tinggi dalam pembuatan, dan pengoperasiannya.  Karena bubu bisa di buat cuma dengan potongan bambu kering, tanpa harus di blender ato dimixer lebih dulu.

Singkatnya, waktu bubu selesai dibikin, bisa langsung di letakan di dasar perairan yang cukup dalam (tapi mudah di jangkau), dan diikat dengan pemberat supaya ngga keseret  arus sampe jauh.  Di dalam bubu ada yang meletakan umpan untuk menarik calon tangkapan, tapi ada juga yang ngga.

Setelah beberapa lama, biasanya ada ikan ukuran sedang yang iseng nyelonong ke dalam bubu, dan gak bisa keluar lagi.  Nah, keberadaan ikan tersebut akan menarik perhatian ikan yang lebih besar untuk memakannya.  Ironisnya, ikan gede yang oon ini justru gak bisa keluar setelah pesta makannya usai, sampe si-pemilik bubu menjualnya ke pasar untuk  ikan bakar rica.

Kisah di atas seringkali gak beda sama hidup kita.  Banyak orang yang sebenarnya udah nyaman dengan berbagai capaian dalam kehidupannya, tapi karena doyan bertualang, akhirnya justru masuk perangkap, dan gak bisa keluar seumur hidupnya.  Entah terperangkap oleh Narkoba, perselingkuhan, judi, ato lingkaran setan korupsi.

Sering gue dapatin dalam kehidupan rumah tangga keluarga and temen-temen gue, yang waktu hidupnya memprihatinkan, menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari godaan selingkuh ato judi.  Tapi ketika perekonomian merangkak naik dan membaik, eh mulai  iseng nyobain Narkoba, paha-paha mulus, om-om manis yang keren, perlente dan nggemesin.  Akhirnya, salah satu ‘bubu’ sukses mengurungnya hingga gak bisa keluar lagi.

Kalo di jaman modern, jejaring social kayaq Facebook and Twitter juga sering jadi ‘bubu’ sakti yang gak perlu umpan sama sekali, tapi terbukti sukses mendapat tangkapan besar.

Gak sedikit rumah tangga bahagia yang jungkir balik lantaran salah satu pasangannya masuk ‘bubu’ brondong manis, ato paha mulus menggiurkan.  Padahal anak udah gede-gede, and yang bersangkutan sendiri udah pantes di panggil opa ato oma.

Walau cerai aja udah menyedihkan, faktanya gak sedikit kisah manis perjalanan cinta sebuah rumah tangga harus diakhiri dengan pembantaian tak berprikemanusiaan salah satu pasangan.  Liat aja Polisi di Batam yang tega motong-motong istrinya, trus memasukan mayatnya ke kopor, dan membuangnya ke jurang.  Padahal, kekuatan cinta yang mereka miliki udah terbukti sukses membawa kehidupan ekonomi mereka ke jenjang ‘manusia bermartabat’.  Cuma lantaran si-suami yang Polisi hebat, masuk ‘bubu’ wanita lain.

Setali tiga uang sama kasus Polisi (juga) di Bitung yang membantai anaknya yang baru 3 taon dan istrinya sekaligus.  Emang sich bukan dia yang mbunuh pake tangannya sendiri.  Dan lagi-lagi, lantaran suaminya masuk ‘bubu’ wanita lain.

Gue pernah inget sama kata-kata orang bijak yang bilang, ‘kalo ada godaan, hindari.  Tapi kalo ada tantangan, hadapi’
Cuma yang sering jadi persoalan, banyak orang yang matanya rabun sampe gak bisa mbedain mana ‘godaan’ atau ‘tantangan’

Yang gak kalah konyol, gak sedikit korban yang udah terperangkap di dalam bubu, begitu lihainya mengemukakan berjuta opini untuk membenarkan ketololannya.  Bukannya introspeksi dan menghentikan perbuatannya, eh malah berusaha cari ketombe item,..upss..maksudnya kambing item. 

Hehehe,…udah ah, ntar gue dikirain Rohaniawan yang sok suci lagi. Hehehe,…bukan begitu, gue cuma prihatin aja sama begiu banyak kekerasan yang ternyata di picu oleh hasrat liar manusia yang membiarkan dirinya terperangkap di ‘bubu’.  Padahal, kan gak ada di antara kita yang mau disamain sama ikan. Hehehe….(kecuali pict gw di FB)

Saran gue sich simple utk ngatasin supaya gak terperangkap di ‘bubu’ kehidupan.  1)Bersyukur dengan semua yang udah kita miliki,  2)Pengendalian diri  3)Senantiasa dekat sama apa yang kita sebut dengan Tuhan.

STOP KEKERASAN DAN PERANG...!!!

Wednesday, January 4, 2012

ISI = PANJANG X LEBAR X TINGGI


Sangihe, Tahuna. 01 Januari 2012

(ih judul apaan sich tuh...)

Gue ngga tau berapa umur anda waktu mbaca tulisan ini.  Tapi pernah ngga anda tanya ke diri sendiri, untuk apa anda hidup…?  Hehe,..udah bosen ya sama pertanyaan norak begini.  Ato anda termasuk orang yang kesel sama hal-hal teoritis and berbau sentimental…yach,..what ever-lah.  Tapi coba dech anda jawab pertanyaan tersebut.

Gue yakin kalo pertanyaan tersebut disodorin ke pembunuh berantai asal Amerika Serikat (sayangnya gue lupa namanya…) yang udah membantai 37 nyawa anak-anak, dan menanamnya di kolong rumahnya, dia ngga bakal menulis untuk jadi pembunuh sadis.  Kenapa gue yakin..?  Ya, karena gue percaya kalo di lubuk hati yang paling dalam dan paling suci tiap insan, slalu ada hal-hal mulia yang ingin dilakukannya.

Gue yakin kalo Sang Pencipta Yang Maha Suci dan Agung, gak bakalan menciptakan manusia berhati jahat.  Gue yakin kalo semua ciptaanNya pasti sempurna. Karena Dia sendiri sempurna.

Kalo faktanya ada manusia sekejam Jenghiz Khan, Hitler, ato Pol Pot yang semuanya udah membinasakan sekitar 50 juta jiwa, bukan berarti mereka disetting jadi pembunuh sejak lahir, melainkan karena rangkaian panjang hidupnya yang membuat mereka berespons salah.

Coba dech pelihara Srigala ato Harimau sejak bayi. Berikan makan dan kasih sayang dengan baik.  Bukan tidak mungkin Harimau dan Srigala tersebut menjadi lebih lembut ketimbang Merpati.  Tapi coba rubah perlakuan anda.  Kasih makan asal aja, trus gebukin tiap hari.  Hehehe,…jangan-jangan anda di bikin ‘steak manusia’

‘Tiap mahluk berespons atas apa yang diterimanya’…….Begitu menurut penelitian para ahli.
Tapi Yang Maha Suci Tuhan memberikan kehendak bebas kepada tiap insan untuk memilih ‘respons’ atas segala hal yang di terimanya.

Trus, apa kaitannya dengan pertanyaan ‘Untuk apa kita Hidup…?’  Ok,sederhanya gini, entah kita sadarin ato ngga, tindakan yang kita jalanin dalam hidup keseharian kita, akan menunjukan respon apa yang sebenarnya udah kita pilih.  Apakah kita berespons sebagai orang yang  “Semuanya harus demi gue” ato “Hidup gue juga harus memperhatikan hidup orang lain”

Ok, gue ngga terlalu tertarik membahas yang “Semuanya harus demi gue”….Kenapa..? Silahkan  renungkan sendiri deh.

Idealnya, kita emang harus hidup bukan untuk diri kita sendiri, tapi juga untuk orang lain.  Karena kita emang gak mungkin hidup tanpa orang lain koq.  Lah wong Tuhan aja menciptakan Hawa supaya Adam gak sendirian.  Nah, karena ketidakmampuan kita hidup sendiri itulah membuat kita juga dibutuhkan orang lain. 

Siapa sich orang lain itu..? Orang Africa..? Mexico..? Ato Suku Dani di pedalaman Papua..? Bisa ya, bisa tidak.  Karena orang lain itu bisa aja anak-anak kita, suami/istri, orang tua, kakak/adik, sepupu, ato tetangga-tetangga terdekat kita.  Orang-orang yang cuma sejauh jangkauan tangan kita.

Jujur, gue sering terharu plus iri sama perjuangan seseorang ato sekelompok orang yang penuh dedikasi dan pengorbanan tanpa pamrih menolong kaum lemah yang butuh pendidikan, pengobatan, ato peningkatan taraf hidup.

Tapi di tengah keterbatasan gue, akhirnya gue harus ‘berdamai’ dengan diri gue sendiri, hingga gue mendapati sebuah ‘aha’…sebuah pemikiran dari sebait kata-katanya Kahlil Gibran:

“Kalau anda gak bisa jadi jalan besar, jadilah jalan setapak yang mengantar orang ke mata air”

Kita ngga harus jadi kayaq Warren Buffet yang menghibahkan puluhan Milyard kekayaannya untuk yayasan social yang menolong orang-orang kurang mampu, ato para pejuang kemanusiaan yang begitu menginspirasi kehidupan.  Karena buat gue, dengan tidak merampas hak-hak orang miskin dan anak Yatim Piatu juga sudah merupakan sebuah tindakan yang berarti untuk hidup orang lain.

Putri bungsu gue yang baru 4 taon, Berlian, seringkali ndesak mamanya untuk mbeli apa aja, entah daun singkong, ubi, pisang goreng, dll, yang di jual anak-anak kurang mampu yang lewat depan rumah.  Bukan lantaran dia tertarik sama dagangannya (emangnya tau apa dia soal daun singkong...), tapi perasaan ibanya pada si-penjual.  Karena cuma kata ‘kasihan’ yang keluar dari bibir mungilnya yang cerewet waktu ndesak mamanya.  

Walau kadang uang di rumah udah pas-pasan, tapi gue ama istri gak mau ngecewain si-bungsu.  Kita gak mau memadamkan benih-benih keperdulian yang bersemi di hatinya.  Sebaliknya, kami berharap dan terus memupuk benih tersebut agar berbuah bagi kehidupan orang banyak kelak.

Akhirnya, taon 2012 udah kita jalanin. Dan ini tulisan gue yang pertama tahun ini.  Gue yakin isu sentral masih tentang (dan selalu) kehidupan manusia dan masa depannya.  Loh,…kan akhir dari semua isyu di bumi adalah tentang kehidupan manusia.  Emang pemanasan global masih ada artinya kalo semua manusia udah gak ada lagi…? Apa pentingnya topik Keruntuhan Ekonomi Eropa kalo bumi tinggal berisi kutu, kelelawar ato kecoa ngesot..?

Nah, berarti kita gak akan lari jauh dari persoalan “Kita Hidup Untuk Orang Lain Juga”

Di bagian terakhir sekali, gue inget sama rumus Matematika untuk mencari Isi Persegi Panjang:  Panjang x Lebar x Tinggi

Mungkin sinkron juga ya sama kehidupan.  Bahwa hidup bukan soal berapa Panjang kita hidup, tapi juga seberapa Dalam (tinggi) dan Lebar kita mengisi kehidupan itu sendiri.

Sinkron juga sama kata-kata ahli kehidupan, yang Beliau sampaikan saat Lokakarya di sebuah bukit:
“Berbahagialah orang yang murah hati….”

Jangan lelah untuk kampanyekan: Hentikan Perang dan kekerasan di Indonesia, hingga ujung bumi

hey,....Happy New Year...May 2012 would be better......

Thursday, December 29, 2011

AJARIN GUE JADI SOMBONG DONG….


Ini salah satu ilmu yang pengen gue perdalam.  Cuman sampe sekarang ngga seorangpun yang mau jadi mentor gue.  Toko buku  udah gue obok-obok.  Tapi belom satu penulis cerdas-pun yang bisa Menuhin  hasrat gue untuk belajar kesombongan.

Padahal, gue salah satu lulusan Doktor termuda di salah satu universitas Eropa yang terkemuka, yang ke-5 pengujinya adalah para professor kesohor.  Tau ngga, mereka sampe bengong ndenger desertasi sama jawaban-jawaban gue.  Yang lebih konyol, mereka baru tahu kalo di Indonesia ada orang se-briliant gue.  Hmm,…gue bilang emang cuman itungan jari sich.

Ada juga cerita waktu gue ngetik desertasi.  Salah satu temen gue yang dari Belanda ngajakin gue buat nyari-nyari uang tambahan buat hidup selama di sono.  Entah jadi tukang cuci piring, ato pengantar Koran.  Cuih, ngga level banget sich. Gue balik nyuruh si-Belanda oon itu untuk nanya kalo tu restaurant mau di jual berapa.  Ngapain gue mau jadi tukang cuci piring. Nurunin level gue aja.  Amit-amit, gimana kalo Donald Trumph, ato si-Bill Gates tau gue nyuci piring di restaurant….hehehe..mau di taro di mana tampang gue yang low profile bgini.

Bayangin, waktu baru 2 hari di Eropa, accounting gue nelpon, nanya kalo gue mau nambah uang saku.  Dia lupa kalo gue ada sedikit dana cadangan yang jumlahnya emang ngga banyak sich, cuman $ 3.000.000 (Cuma sekitar 28 milyar koq,..). Cukuplah buat 1 bulan.

Oh iye, pas baru 5 hari, gue ngobrol sama  cucunya konglomerat Jepang(katanya sich,..), yang punya Komatsu sama Mitsubishi.  Doski kaget waktu gue ngomong pake bahasa Jepang.  Norak banget deh tu orang.  Orang gue udah nguasain 6 bahasa sejak umur 22 taon.  Bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, jepang sama Belanda.

Trus, waktu kita lagi ngobrol, eh 3 biji HP gue bunyi bareng.  Doski bingung. Gue keluarin. Ah, males. Ke-3 telephon rupanya dari Mentri Pemuda & Olah raga, Angelina Sondakh sama Bob Sadino. Gue angkat telephon om Bob. Biasa..., bisnis.

Si-Jepang nanya knapa HP gue banyak gitu. Yah, cemen nich orang.  Lantaran kita ngobrol deket mobil sport gue, trus gue ajak doski ke mobil. Gue tunjukin 5 HP gue yang laen.  Eh, dia nanya lagi. Gue bilang, kalo HP gue yg paling murah (Kalo pake Rupiah, 17 juta), itu nomor khusus buat kenalan gue yang level bawah.  Trus, yang paling mahal, yang limited edition, khusus buat orang level atas asal luar negri, kayaq Bill Gates, Warren Buffet, Donald Trumph, Mukesh Ambani (orang terkaya dunia urutan 5, dari India), Carlos Slim Helu (Terkaya ke 2, dari Mexico).

Kalo Hp gue yang ke-2 termahal, Khusus untuk kolega gue yang level atas dalam negri, kayaq aburizal. Michael Hartono, Peter Sondakh, Putra Sampurna, ama Eka tjipta.

HP gue termahal ke-3, buat Presiden R.I sama pembantuanya, alias menteri.

Eh pas gue lagi nyeritain soal HP-HP gue yang ngga penting gitu, ada telephon masuk. Aduh, bekas temen SD gue.  Dia bakal ikut Pemilihan Gubernur di salah satu Propinsi. Udah kecium nich aromanya, paling-paling dukungan dana. Gue ngobrol ngga lama.  Gue Cuma bilang hubungin accounting gue aja. 15 Milyar gue pikir cukup kalo buat gituan sich. Eh, gue masih sempet loh nanya ke temen SD gue, sapa tau di Propinsinya ada professor yang bisa ngajarin gue gimana caranya jadi sombong.

Beneran, gue stress deh lantaran banyak orang bilang kalo gue terlalu rendah hati.  Kan ngga bagus tuh buat perkembangan karakter gue.  Kan  umur gue baru 34 taon. Baru 3 bulan dikubur.

(uh, container sialan,…gue ditubruk waktu ketiduran di trotoar, lantaran capek diuber-uber kamtib tadi malem….wooiiiii,….please deh, ajarin gue sombong dong,……!!!!!!)



Mari kita Kumandangkan lagu: STOP PERANG & KEKERASAN DI INDONESIA

Thursday, December 22, 2011

KOTA ASYIK ITU BERNAMA BITUNG


(Empat hari menjelang Natal 2011)

Apa yang ada di benak anda waktu baca nama Bitung..? Kecelakaan helicopter mungkin, ato salah satu kota perikanan terbesar di Sulawesi.  Ato anda membayangkan tulisan yang membahas soal statistic, social budaya, demografi, ato hal lainnya yang bikin kepala cenat-cenut.

Aduh, ngga deh.  Saya sendiri yang duluan muntah  kalo nulis begituan. Hehe…soalnya  saya cuma warga sipil yang settle di Bitung, punya KTP Bitung, dan cari makan di Bitung.  Bukan agen pariwisata, ato  pejabat pemerintah. 

Malah, sampe sekarang, saya sendiri masih ngga tahu kenapa namanya Bitung, dan apa hubungannya dengan Rangkasbitung yang ada di Jawa Barat.(Tapi saya yakin bukan lantaran bunting di Rangkasbitung, terus melahirkan di Sulawesi Utara)
Tempat ini namanya Girian.

Saya ngga akan nulis kalo Bitung adalah kota yang Asri (hehe,..mirip nama temen saya yang Dosen di Gorontalo..),  megah, cantik, atau menakjubkan.  Ngga akan.

Percayalah,…!! Anda ngga akan menemukan bintang tenar seperti Justin Bieber, ato Paris Hilton.
Anda juga ngga akan ketemu si sexy Megan Fox, ato Angelina Jolie.

Anda juga ngga bakal nyium aroma bunga yang semerbak mewangi waktu masuk teritori Bitung.  Malah sebaliknya, anda akan disambut aroma anyir ikan.



Anda juga ngga bakal nemuin olahraga parkour yang doyan loncat dari satu gedung ke gedung lain.  Lah wong gedung tinggi di Bitung bisa diitung sama jari tangan sebelah.

Anda juga ngga perlu membayangkan Bitung secantik Singapur, Hongkong, atau kota Bern, Swiss.  Jauh banget sudara-sudara.

Anda juga ngga akan ngerasain udara sesejuk lembang Bandung,ato puncak pass.  Karena suhu udara Bitung berkisar di 30 – 32 Derajat Celcius.

Anda juga ngga usah menghayal kalo masyarakat Bitung itu eksklusif.  Smart, sopan,…bla..bla..bla… Orang Bitung sama koq dengan populasi manusia di belahan bumi manapun.  Belum ada yang namanya cyborg, dan kentutnya sama baunya.

Bitung juga bukan kota suci seperti Mekkah ato Vatikan.  Karena tempat pelacuran banyak juga loh di Bitung.  Paling top namanya Tenda Biru.  Apalagi yang namanya kedai minuman keras sama judi amatir. Dari kiu-kiu sampe menyabung ayam.

Anda ngga usah berharap ndapet McDonald ato Pizza di Bitung (kalo pisang molen banyak).  Tapi kalo macam-macam olahan ikan,  Bitung seng ada lawang.  Mulai dari Juice ikan busuk, sampe rujak ikan ada di Bitung.  (Hehehe,…bingung toh sama juice ikan busuk…? Namanya bakasang friend…!)




kalo ini 'jantung' ikan

Lalu, kenapa saya bilang Bitung itu asyik..? hehehe…yang pasti bukan lantaran anda bakal ketemu saya di Bitung.  Tapi gini alasan saya.

Sebagaimana manusia hidup lainnya, saya juga punya hasrat dan keinginan untuk melihat negara lain. Liat Grand Canyon, Hongkong, Paris, Betlehem, Kepulauan Karibia, Dubai, dll.

Akhirnya saya ndapetin kesempatan itu.  Liat Singapur sama  Jepang.   Tapi setelahnya saya mikir, apa sich yang sebenarnya saya peroleh..? Cuma kebanggaan semu coy…!! Koq kayaqnya ngga ada perbedaan significan deh antara harapan dan perolehan.  Beda kalo saya lari pagi selama 5 bulan.  Ada kontribusinya.  Berat badan saya turun,  saya tambah sehat, and pakaian yang udah sempit akhirnya bisa saya pake lagi.

Untungnya, saya liat Negara-negara tersebut tanpa ngeluarin fulus sepeserpun ( lantaran dibayarin perusahaan).  Tapi saya mikir, seandainya saya pake uang pribadi, kan sebenarnya cuma untuk   mengagumi  keindahan alam, kecanggihan kota, keunikan-keunikan, keaneka ragaman makanan, dan entah apa lagi.  Toh akhirnya saya pulang lagi ke kota administrative bernama Bitung.  Sudut bumi tempat putri bungsu saya lahir.  Kota yang saya yakini punya semua yang  saya butuhkan.

Beli baju, makanan, peralatan rumah tangga, paku payung,  korek telinga, sampe Blackberry (hehe,..untuk yg  namanya Berry Hitam ini,  entah kenapa saya kepengennya gratis boo…) semua saya bisa dapet di Bitung.  Kalaupun ngga ada, kan tinggal naik bis ke tetangganya Bitung yang namanya Manado.  2 jam pulang balik. Selesai.

Kalo pengen refreshing  yang natural dan tanpa polusi udara, saya bisa ke cagar alam tangkoko, ato mendaki gunung Dua sudara, ato Klabat, tetangganya di Minahasa Utara.

Ato,...misalnya mau cari inspirasi untuk menghayal yang jorok,..ups,...maksudnya untuk cari order kecil-kecilan (hehehe..), tinggal stater Suzuki butut ke pante yg namanya RCTI. 20 menit sampe.


Kalo mau refreshing mancing, cukup 300 ribu, saya bisa nyewa perahu yang muatannya 10 orang selama 3-4 jam, trus mancing di laut biru yang dalamnya sekitar 500 meter.

Mau nonton TV..? Bitung ada puluhan saluran TV kabel yang channelnya ampir sebanyak pasir di Pulau Lembeh.  Apalagi internetan.  Warnet bersaing sama supermarket.(Tgl 16 Agustus 2019, warnet udah ilang di telen bumi)

Bitung emang jauh kalo di bandingin Jakarta, Bandung, ato Surabaya.  Tapi suer, saya happy  tinggal di Bitung. 

Saya berdoa, kiranya Yang Maha Kuasa Tuhan selalu melindungi Bitung dari semua niat jahat orang- orang yang pengen mengobok-obok Bitung.  Pengen ngerusak kedamaian yang saya, keluarga, teman, dan semua orang Bitung rasakan selama ini. 

Kalo anda ngga percaya, coba deh liat Bitung pake Goggle Earth.  Saya yakin anda akan sependapat dengan saya kalo Bitung itu asyik……



MARI KITA SUARAKAN: “STOP KEKERASAN DAN PERANG DI INDONESIA, HINGGA UJUNG BUMI”

Friday, December 9, 2011

PULANGLAH MANIS, LUPAKAN OM.....!!


Ajaib.  Setidaknya begitu menurut gue soal kejadian 2 bulan lalu, di Gramedia Manado.

Karena ada urusan yang cukup urgen di Manado, gue minta ijin kerja setengah hari.  Maklum,  jarak  Bitung- Manado lumayan jauh buat gue yang kerja dari Senin ke Sabtu melototin ikan ama pabrik melulu. Tapi karena urusannya selesai  cepet, gue sowan ke Gramedia, nyari buku yang udah lama gue incer.  Nah, pas ada fulus,  gue berusaha menuhin hasrat yg tertunda untuk ndapetin buku tersebut.  

Singkatnya, gue hanyut lagi seperti biasa, tiap ada di toko buku (bukan sok pamer nich…).  Waktu sekitar 15 menit gue mbaca, koq perasaan gue ada cewek yang mondar-mandir di deket gue.  Ngelirik, ngeliat tumpukan buku di depan gue,  pergi dan balik lagi.  Ah, guenya aja yang kegeeran kali.  Pikir gue.  Lagian, gue nyadar (hehehe…lebay) kalo performance gue ngga masuk itungan  cewek semanis dan seimutnya, yang gue perkirakan sekitar belasan taon.  Gue terus aja mbaca.  Lagi seru….hehe..(padahal udah ngga terlalu konsen)

Dia balik lagi. Nanyain tempat buku ini dan anu. Gue tunjukin, trus mbaca lagi. Tapi naluri gue bilang, koq ngga nanya sama karyawan Gramedia sich.  Tuing….!! Sel-sel neuron di kepala gue mengisyaratkan sesuatu.  Ah, gue terlalu geer nich.  Pikir gue lagi.

Satu jam lebih dikit gue di Gramedia.  Mbaca buku ini sedikit, buku itu sedikit,  buku anu sedikit, dan akhirnya mbeli buku yang emang gue incer (bego banget gue kalo ngabisin waktu di toko buku cuma untuk mbaca buku yang akhirnya gue beli). Ke kasir, and back to Bitung.

Alamak, gue ampir flao (pingsan,..istilah orang Manado).  Cewek cantik, manis nan imut ada di pintu keluar.  Payungan.  Ooo,..ternyata hujan.  Pikir gue.  Tapi akhirnya gue tau kalo dia emang nungguin gue.  Bukan hujan alasannya.  Dia yang mbuka percakapan.  And sebagai orang yang tau (sedikit) tata karma, gue ngeladenin bincang-bincang.  Hehehe,..asyik juga kan ngobrol ama wanita manis, walau umurnya beda dikit sama putri sulung gue, Edelweis.

Namanya, (gue samarin aja ah….)Fonda. (Hehehe,…soalnya kalo Suzuki,..sama ama motor gue dong). 16 taon. Kelas 3 SMU.  Tingginya gue taksir 170’an cm (soalnya beda sedikit sama tinggi gue).  Katanya tinggal di sekitaran Tomohon.

Lama kelamaan pembicaraan jadi lebih lancar. Selain keliatan smart, Fonda punya kemampuan berkomunikasi cukup baik.  Gue ngga tau apa udah begitu tipe anak sekarang.  Tapi banyak pembicaraan yang nyambung,  walau dia nyebut gue  om (hehe,..masa kakek…kan gue belom tua-tua amat…huahuhaha….sambel)

Sekitaran 20 menit, gue ambil inisiatif pulang.  Nomor HP-nya ada di gue, and sebaliknya.  Gue pikir sudah selesai.   Cuma selingan yang ngga terlalu berarti. Karena waktu ngobrol, gue lebih banyak ngomong soal dunia pendidikan, plus beberapa pesan sponsor orang yang jauh lebih tua.  Kalaupun dia berusaha ‘miring’ ke hal-hal yang tercium kurang beres, langsung gue alihin.

Gue tidur pules di bis ke Bitung.  HP gue bunyi waktu bis udah masuk daerah Bitung.  Paling Rini, istri gue. Pikir gue.  Alamak, ternyata Fonda.  Cuma nanyain kalo gue udah nyampe ato belom, sambil ngasih info kalo dia singgah di hypermart.  Makan katanya.

Malemnya, pas gue lagi nonton, sms Fonda ngucapin met istirahat. Langsung gue apus. Besoknya,..telephon,…sms,….wah, sarap kali nich cewek. Gue mulai ngga nyaman.  Telephon-nya ngga pernah gue angkat. sms-nya ngga gue bales-bales.

Hari berganti minggu, sampe di satu siang, sabtu jam 13.00, security tempat kerja gue ngelapor kalo ada perempuan nyari.  Udah janji katanya.  Gue suruh langsung ke kantor. Soalnya gue pikir dari Dinas Perikanan ato sejenisnya-lah.  Tamu wajib. Hehehe,… 

Lantaran mata gue emang udah ngga terlalu bagus,  gue berusaha ngeliat dari jauh, siapa gerangan tamu gue.  Waktu gerbang di buka, Avansa biru laut bergerak ke halaman pabrik. Brenti  di tempat yang diinstruksiin security.  Pintu mobil kebuka, turun perempuan cuantik. Gue perhatiin. Rok coklat muda setinggi lutut, sama kemeja tanpa lengan berkerah.  Biru muda juga.  Gaya jalannya anggun banget.  Beberapa karyawan yang udah off melotot, sambil bersiul bersahutan, mirip taman burung di TMII. Pokoknya menghipnotis deh.  Ah, biasa gue ngeliat yang begini.  Tapi,…oh Tuhan.  Gue ampir lupa kalo jantung gue masih ada di tempatnya. Fonda.  Gue lupa kalo pernah bilang tempat kerja gue.

Gue ngga bisa lari. Gue ajak Fonda ke tempat biasa nerima tamu. Oh iya, kalo Sabtu, bos besar ngga ngantor.  Makanya gue bisa sedikit leluasa nrima tamu, tanpa ‘rasa begitu’…hehehe,…beraninya bos ngga ada.

Belom ngomong panjang lebar, Fonda bilang kalo dia rindu berat ama gue.  Malah, belom sempat gue ngucapin sepatah kata,..dia langsung sambung dengan pernyataan cinta. Fonda cinta om Robin, katanya mendesah.

Gue laki-laki normal. Sehat lahir batin. Terkadang juga terbersit keinginan untuk iseng.  Yang penting ngga ketauan istri.  Hehehe,…tapi gue bersyukur masih bisa ngekang diri.  I love my wife, Rini.  Gue ogah rumah tangga yang udah 12 taon gue jalanin dengan kebahagiaan, harus ancur kayaq banyak rumah tangga laen.  Gue ogah 2 putri cantik gue, Edelweis sama Sakura membenci gue, cuma lantaran burung gue hinggap di sarang laen. Loh, emangnya apa sich yang dicari om-om seumuran gue kalo misalnya gue sampe nanggepin cinta gilanya si-Fonda ? Bibirnya yang menantang? Bullshit…!! Apa lagi kalo bukan yang ada di balik celana dalemnya.

Jadi kata yang pantes gue bilang ke fonda cuma trima kasih karena mencintai gue. Lupain gue. Gue ngga bisa, karena cinta gue ngga bakal gue bagi lagi.  Cinta gue udah gue paku di sebuah Gereja yang namanya Patmos, di Tahuna.  Saat gue ngucapin janji di hadapan Tuhan dan Jemaat, bahwa gue akan setia hingga maut memisahkan.

Sambil memandang punggung Fonda yang berjalan ke mobilnya, ada kesedihan dan rasa bangga yang diam-diam menyusup di hati gue.  Sedih lantaran harus membunuh cinta yang tumbuh di hati seorang gadis manis anak SMU, tapi bangga lantaran bisa njaga kepercayaan yang diberikan istri gue.  Sebagaimana gue mempercayainya. 

Thursday, December 1, 2011

Tante Ola


Catatan kecil dari Manado

Ngomong soal makanan, mungkin orang Manado jagonya.  Karena itu lahir guyonan: “biar bodok di laeng, mar jangan bodok di makan” …kurang lebih gini terjemahan bebasnya: “boleh-boleh aja bodoh di banyak hal, tapi jangan bodoh soal makan”

Itu juga salah satu sebab kalo jumlah kedai makanan di Manado cuma beda sedikit sama jumlah Gerejanya.  Nah, berkaitan dengan itu, tanpa sengaja  gue nemuin fenomena yang unik.  Banyak pengelola kedai makanan bernama Ola.  Emang sich Ola cuma nama kecil, ato nama panggilan.  Karena nama lengkapnya bervariasi.  Febiola, Poula, Youla, Enola, Serviola, ato Fanyola.  Tapi pastinya ngga pernah gue temuin yang nama lengkapnya  Drakoula, Ebola, ato tola-tola.

Berhubung udah punya keluarga, langganan di kedai makannya manggil tante Ola.  Tapi yang pasti tante Ola di Teling beda sama tante Ola Karombasan, Kleak, Lorong Anoa, Warembungan, Pondang, Perkamil, Wanea, Tuminting, ato Wangurer.  Cuma ada 1 kesamaan umum: semua bertubuh subur.  Maklum, namanya juga penjual makanan.  Kan lucu kalo penjual makanan kurus kering.  Bisa-bisa calon pembeli mikir kalo makanan yang di jual kurang bergizi, ato mengandung zat-zat berbahaya yang bikin chef-nya males makan masakannya sendiri.

Oh iya, tante Ola yang bakal gue kupas,…eh,..maksudnya gue ceritain di sini, nama lengkapnya Poula Mince Moningka.  Wanita 42 taon yang tingginya 157 cm, dengan berat 73 kg ini mungkin tergolong salah satu wanita paling bahagia di dunia (Emank sich ngga tercatat di versi majalah apapun). Tapi dilihat dari frekuensi tebaran senyumnya. Ampir 2x24 jam (hehe..mirip tamu wajib lapor)

15 tahun nggelutin usaha kampung tenga (perut) ribuan orang, memberikan cakrawala baru dalam kehidupan tante Ola tentang apa yang disebut dengan karakter unik manusia.

Tante Ola ngga pernah paham apa itu yudicium, dies natalis, yahoo messenger, skype atau web master   kalo ngga denger ocehan sekelompok mahasiswa yang selalu milih meja nomor 11.

Doski-pun cuma bisa termangu mendengar istilah  retort, pack in oil, quality assurance, ato tuna saku yang kerap di lontarkan sekelompok karyawan perusahaan yang selalu memesan meja di pintu masuk.
Bahkan dirinya cuma bisa mengingat beberapa istilah asing, seperti save deposit box, amortasi, obligasi, RUPS, atau saksi mahkota yang kerap diucapkan sekelompok bapak muda terpelajar (keliatannya…) yang doyan ngopi sambil melahap nasi jaha di meja 7.

Buat tante Ola jauh lebih penting memahami jahe sebagai penambah rasa pedas sekaligus pembangkit selera, atau minyak goreng yang ngga boleh dipake berulang lebih dari 3 x sebelum jadi racun, atau kemiri sebagai pengental makanan, atau bawang putih plus susu kedele sebagai pengganti vetsin. 

Tapi tante Ola nyimpen baik-baik di otaknya muka seseorang yang 3 bulan lalu menulis surat lamaran kerja yang isinya mirip pengemis meminta sepiring nasi, tapi 6 bulan kemudian ngga brenti memprovokasi rekan kerjanya menentang semua kebijakan di tempat kerjanya, sambil mencap para pimpinannya sebagai keledai dungu yang tak berpri kemanusiaan.

Tante Ola juga hafal meja favorit sepasang mantan kekasih yang  menjalin cinta lagi setelah dicomblangin Facebook, walau masing-masing telah berkeluarga.

Atau tingkah laku seorang pria 40-an yang setiap saat berusaha merayu wanita muda yang dianggapnya menarik, untuk ditarik ke tempat tidur.

Tante Ola juga ngga pernah lupa  gelagat 2 pria bergaya jurnalis yang rajin ketemuan sama pria-pria perlente, dan selalu ditutup sama penyerahan   amplop (Keesokannya slalu muncul pemberitaan miring  di sebuah surat kabar terkemuka, tentang sepak terjang seseorang yang diindikasi sebagai saingan si-pemberi amplop)

Walau mulanya bingung dengan istilah haecker…haecker yang selalu dilontarkan 4 anak muda di meja 5,  akhirnya tante Ola tahu tentang pembuat akun-akun palsu  Facebook yang tujuannya menjaili orang lain, bahkan rekan sendiri, demi keuntungan pribadi. 

Tante Ola-pun maklum sama kelakuan beberapa tamunya yang sengaja meninggikan decibel suaranya saat mengucapkan kota-kota wisata di daratan Eropa,  mobil bermerek Jaguar, Lamborghini, ato BMW, agar terkesan berkelas.

Sebenarnya udah banyak orang yang nawarin tante Ola untuk ngembangin usaha. Tapi tante Ola nolak halus dengan alasan cuma tahu bumbu brenebon,  babi leilem, tinorangsak, pangi, saut, ragey, ato rw.  Padahal benak sederhananya mbisikin kalau semua usaha selalu berfluktuasi mengikuti trend. Tapi apapun kondisinya, toh tiap orang pasti butuh makan.  Ngga perduli harga blackberry jadi 700 ribu, ato Xenia bisa didapet cuman dengan 125 juta.  Orang bisa berhenti pake lipstick,  parfum, ato anti aging.  Tapi ngga mungkin berhenti makan.

Waktu malem makin larut, dan langganan beranjak pulang, tante Ola termenung di sudut favoritnya. Menghitung pendapatan, dan merencanakan masakan hari esok.  Senyum lelahnya berpadu dengan kepuasan.  Baginya, menjual makanan tidak sekedar menghitung selisih yang besar antara pengeluaran dan pemasukan, tapi juga soal ketetapan hati.  Soal bagaimana ia menghidangkan makanan yang tidak mahal tapi bermutu.

Tante Ola nolak untuk menipu pelanggannya dengan nyuguhin bahan baku makanan yang sudah afkir, apalagi busuk.  Laba bukan segalanya. Kepercayaan dan kepuasan pelanggan adalah dasar yang fundamental untuk meraih laba.  Tante Ola bukan Cuma nawarin makanan sehat dan berkualitas, tapi juga kasih sayang.  Kebusukan tak pernah berumur panjang. Begitu filosofinya.

Tante Ola emang cuma perempuan biasa yang masih doyan ngelirik pemuda ganteng nan macho, walau cuma sebatas kagum. 

Perempuan  yang  sering terpancing ngerumpiin perempuan laen yang kecentilan, atau bertingkah over acting dengan pakain minim, sambil nyusurin beranda Gereja. Mirip cacing keluar tanah lantaran banjir.

Tapi tante Ola terlalu lugu untuk nanggepin soal reklamasi, people power, supremasi hukum, degradasi lingkungan, ato krisis energy.  Capek. Katanya.

Tante Ola cuma bisa ‘menjaga’ kalimat turun temurun dari  opa-omanya. “Berikanlah pada Kaisar, apa yang menjadi milik Kaisar, dan kepada Tuhan, apa yang menjadi milik Tuhan”

Baginya, nolong tetangga yang ngetok pintunya malam buta karena anaknya panas tinggi masih lebih mudah dan kena sasaran, ketimbang demonstrasi demi perbaikan harga cengkih dan vanili.

Bahkan otaknya lebih mudah paham untuk ngeralain 2 pemuda mabuk yang nolak bayar waktu makan di kedainya.  Toh Cuma 2 piring, katanya.  itung-itung amal sama yang berkekurangan. Lagian ngga mungkin sebulan 2 kali yang kayaq begituan. 

Otaknya juga tetep ngga terganggu sama  syamas dan penatua  yang ngga pernah lupa minta sumbangan ke rumahnya, tapi selalu lupa ngunjungin tiap hari ulangtahunnya.  

 Tante Ola bahkan tetep cuek waktu 9 dari 10 ibu-ibu di kompleksnya  bersaing ngerenovasi rumah demi harkat dan martabat (martabat keju apa coklat,..tanyanya waktu itu)

Dia juga ngga terpancing kayaq ibu-ibu tetangganya yang belakangan doyan nongkrong di warnet, untuk melototin fenomena bernama Facebook and twitter.

Tante Ola juga ngga ambil pusing waktu rombongan ibu-ibu histeris lantaran puluhan mall mentereng tumbuh kayaq jamur merang di bekas pantai Manado.  Malah, waktu rombongan tetangganya nyarter open cap untuk nyerbu diskon blackberry, tante Ola malah mikirin soal rasa.  Manis, asam, asin. Iiihhh,…amit-amit.  Dikiranya blackberry  jenis makanan baru yang lebih enak dari babi leilem. Dasar tante Ola.

(di pintu masuk kedainya, tante Ola nempel tulisan aneh: hidup ngga usah maksa.  Jalanin apa adanya. Buat apa maksa cari lagu yang baru  dipromosiin.  Kan cepat ato lambat, kita bakalan denger juga…)