Sejarah
membuktikan, bahwa ketika manusia meyakini kalau kehebatan berpikir, dan
kecerdasan bisa mengatasi persoalan kehidupan, Alam,-yang adalah ciptaan hidup
dari Allah yang hidup, justru menjungkirbalikan semuanya.
Demam
berdarah, misalnya. Penyakit yang di
sebabkan oleh nyamuk, seiring canggihnya tekhnologi, toh belum ada obat
penyembuhnya.
Begitu
pula dengan kanker, Alzheimer, HIV/AIDS, multiple sclerosis, dan beberapa
penyakit langka seperti progeria, dan penyakit Huntington.
Jangan
tanya soal biaya yang telah di keluarkan, dan ahli kesehatan paling jenius di
kolong langit yang terlibat.
-------ooo-------
Manusia
paling jenius yang pernah tercatat terlahir di bumi ini, yang mungkin telah
menciptakan banyak penemuan mencengangkan, toh tidak satupun yang mampu
menjelaskan secara detail bagaimana otak bekerja.
Apalagi
menciptakan otak hidup secara original.
Padahal,
kalau di runut dari awal, otak ‘hanya’ terbentuk dari pertemuan cairan sperma
dan sel telur
Dalam
kalimat paling bodoh yang bisa di urai, sesungguhnya seluruh peradaban manusia
di susun, dan berubah oleh pertemuan sperma & sel telur.
teori
biogenesis, yang menyatakan bahwa “semua makhluk hidup berasal dari makhluk
hidup lain yang sudah ada sebelumnya..”
ilmuwan
Lazzaro Spallanzani membuktikan teori tsb dg
experimennya: Menggunakan
air kaldu yang dipanaskan dan ditempatkan dalam wadah berbeda (tertutup,
terbuka) untuk membuktikan bahwa mikroorganisme berasal dari mikroorganisme
lain, bukan dari air kaldu itu sendiri.
konyolnya,
dalam batasan ekstrim, banyak ilmuwan cerdas yang menghentikan ‘pencariannya’
akan teori “semua makhluk hidup berasal dari makhluk
hidup lain yang sudah ada sebelumnya..”
Artinya,
adanya ‘kehidupan’ awal yang menghidupi seluruh kehidupan.
Faktanya,
ilmu pengetahuan memang harus di setting sedemikian rupa untuk ‘dibatasi’ dan
tidak boleh menyebrang ke hal-hal spiritual, supaya tidak absurd.
‘Tuhan itu hanyalah ilusi manusia.’ Itu ilmu pengetahuan. Entah filsafat, dsb.
Ironisnya,
justru di sanalah manusia menampilkan wajah aslinya yang bermuka dua.
Tuhan
harus di tiadakan agar ilmu pengetahuan bisa murni sebagai ilmu pasti.
Karena
Tuhan tidak bisa di buktikan keberadaanNya berdasarkan metode ilmiah.
Karena
Teori Penciptaan hanyalah interprestasi.
Tapi
mari kita sedikit bermain dengan cara berpikir yang di ajarkan guru SD kelas 1,
atau 2 dulu.
“Anak-anak, kursi, meja, dan lemari di buat
oleh tukang kayu. Karena kursi, meja,
dan lemari tidak mungkin ada dengan sendirinya...”
Kalau
kursi, meja, dan lemari saja ada yang membuat, trus, apakah Matahari, Bintang,
Bulan, Laut, dan ikan-ikan di laut ada dengan sendirinya....?
Kejadian 1:20-23: Allah
menciptakan semua jenis makhluk hidup di laut dan burung di udara.
Kejadian 1:24-25: Allah
menciptakan binatang-binatang di darat.
Kejadian 1:26-27: Allah menciptakan manusia,
laki-laki dan perempuan, menurut gambar-Nya
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap
hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri" Amsal
3:5.
Amsal 3:6
juga melengkapi ayat ini dengan: "Akuilah
Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu"
Sebelum tutup.
Jauh sebelum
para pakar berkutat menciptakan dalil-dalil psikologi tentang kesehatan jiwa
dan mental, seorang pria Suci Kudus yang lahir di Betlehem, bernama Yesus
Kristus berkata :
"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu"
(Matius 11:28)
Intisari
dari pemulihan jiwa & mental adalah kehidupan yang penuh Kelegaan.
Siapapun
yg ada di dunia ini, bahkan seisi duniapun tidak ada yang berani dan konsisten
menwarkan hal tersebut.
Penutup.
Pertanyaan
paling akhir dari petualangan intelektual adalah : memulai dari awal mula kehidupan.
Dear my putri cantik, I don't have anything of value for either of you, just a belief
that you should also believe in: submit everything in your life to the feet of
Jesus Christ, after that, pursue knowledge with the fear of God.
(Terinspirasi ketika AI merebak)